Paspor Turun Harga!!!

Sejak tanggal 3 Mei 2019 yang lalu, pemerintah mulai memberlakukan biaya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang baru dilingkungan Kementerian Hukum dan HAM lewat Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2019. Yang mau saya soroti disini adalah biaya tentang jasa keimigrasian ya..

Ada beberapa hal yang berubah terkait dengan penetapan peraturan baru ini, diantaranya bisa dilihat dari tabel perbandingan ini ya :

pnbp2pnbp

Kalau liat di tabel atas (saya buat untuk kepentingan sosialisasi keimigrasian tentang perubahan biaya PNBP), kita liat kalau harga paspor naik ya? padahal aslinya harga paspor itu turun loh.. karena di peraturan baru udah ngga membebankan lagi biaya biometrik yang Rp.55.000. Jadi yang semula Rp.355.000, sekarang kita cukup bayar Rp. 350.000 saja untuk paspor.

Sedangkan untuk penggantian paspor yang hilang atau rusak, ada perubahan yang cukup signifikan karena kalau di peraturan lama masih dibedakan jenis penggantian rusak habis berlaku atau masih berlakunya. Sedangkan untuk di peraturan baru, biaya beban ngga pandang bulu, mau itu habis berlaku atau masih berlaku tetap dikenakan biaya beban. Rp, 1.000.000 untuk penggantian paspor hilang dan Rp. 500.000 untuk penggantian paspor rusak. Untuk itu, sangat penting kita menjaga buku paspor kita supaya jangan sampai hilang atau rusak. Jangan lupa juga untuk melampirkan buku paspor yang lama ketika mau melakukan penggantian paspor. Ngga lucu kan, kalau kita harus bayar denda hanya karena kita teledor untuk menyimpan buku paspor.

Sedangkan untuk orang asing yang berdiam diri di wilayah Indonesia melebihi izin tinggalnya, yang asalnya biaya beban hanya Rp. 300.000 per hari sekarang menjadi Rp.1.000.000 per hari nya.

Info lainnya yang ngga kalah penting, untuk saat ini buku paspor 24 halaman sudah ngga diperuntukkan untuk umum lagi. Buku paspor 24 halaman akan diberikan untuk saudara-saudara kita Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang melakukan permohonan paspor. Biaya buku paspor 24 halaman ini juga Rp. 0 untuk rekan-rekan PMI yang melakukan permohonan paspor untuk pertama kalinya.

Oke, mungkin segitu aja info keimigrasian kali ini.

Semoga bermanfaat 🙂

Advertisements

Aplikasi Antrian Paspor Online Versi 2.0 (APAPO V2)

APAPO V2 ini merupakan aplikasi baru lanjutan dari aplikasi pendaftaran paspor online ver.1. yang diluncurkan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi sebagai bentuk upaya peningkatan pelayanan keimigrasian khususnya dalam pelayanan penerbitan paspor dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi.

Sejak diluncurkannya APAPO V2 pada tanggal 21 Januari 2019 ini, aplikasi antrian paspor versi 1 sudah tidak dipergunakan lagi. Untuk itu kami menghimbau kepada masyarakat yang membutuhkan layanan keimigrasian berupa permohonan paspor untuk bisa mendownload aplikasi tersebut melalui Playstore dengan kata kunci pencarian “Layanan Paspor Online” atau melalui website di https://antrian.imigrasi.go.id/Layanan

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan didalam APAPO V2 ini, diantaranya :

  1. 1 username hanya bisa mendaftarkan maksimal 5 orang pemohon yang terdaftar dalam 1 kartu keluarga.
  2. Username merupakan pemohon utama.
  3. 1 username hanya bisa melakukan 1 kali pendaftaran dalam 1 waktu, jangka waktu pendaftaran berikutnya adalah 1 bulan.
  4. Jika melakukan pembatalan pendaftaran, pendaftaran berikutnya bisa dilakukan setelah 1 bulan.
  5. Pemohon bisa mendaftar di hari yang sama selama kuota masih tersedia.
  6. 1 perangkat (Handphone) hanya bisa untuk dipakai mendaftarkan 1 username.

    Secara garis besar, tahapan pendaftaran melalui aplikasi APAPO V2 digambarkan seperti dibawah ini :

     

     

     

     

    Di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banjarmasin sendiri, dalam masa transisi ini masyarakat yang datang tapi belum mendaftar secara online bisa menghubungi petugas Customer Service untuk dibantu mendaftarkan terlebih dahulu.

     

    Bagi masyarakat yang memerlukan informasi lebih lanjut mengenai layanan keimigrasian di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banjarmasin bisa menghubungi nomor 0511-4707758 atau nomor layanan whatsapp 081256559196.

Endless Blessing

It’s such a heartwarming Ketika tiba-tiba ada yang ngeshare sesuatu yang pernah kita tulis, yang kita sendiri pun sebetulnya udah ga inget lagi. Well, ini tentang resolusi yang pernah saya tulis disini , suddenly hati ini meleleh… Resolusi yang saya buat di tahun 2016 alhamdulillah bisa tercapai semuanya walaupun ngga di tahun yang sama semua. Di tahun 2016, kami sekeluarga bisa berangkat ke Jepang untuk nengokin om adit dan surprisingly kita bisa berangkat full team kakak adik dan besan2nya mamah.

Lalu blessing lainnya adalah alhamdulillah sedikit demi sedikit udah bisa bantu mamah untuk ga kontrol rutin ke dokter lewat jalur BPJS lagi. Sama sekali ga maksud mengecilkan arti BPJS, karena saya pun beberapa kali udah merasakan manfaatnya. Tapi coba bayangin aja nenek-nenek musti antri lama di rumah sakit dan ujung-ujungnya pasti ada tambahan sakit karena musti ngeluh nungguin lama dan sendirian.

Di tahun 2017, secara mendadak kami bisa berangkat umrah sekeluarga. Sesuatu yang jauh dari mungkin keliatannya tapi bisa terwujud karena Allah membuat segala yang ga mungkin menjadi nyata. Sayangnya saya masih belum tergerak untuk menulis jurnal perjalanannya walaupun saya tau pasti ini sesuatu yang wajib untuk diabadikan dan semoga terulang. Iya sih memang semua mimpi ini baru tentang duniawi 🙂 berharap saya juga akan semakin baik lagi untuk persiapan ke akhiratnya.
Di tahun 2018, banyak surprise lain terutama perjalanan-perjalanan hasil impulsif yang saya sadar itu ga bagus sih sebetulnya, tapi kalau bukan sekarang trus kapan lagi???? hahahaha….

Saya semakin yakin, apapun keinginanmu jangan pernah takut untuk berharap. Setinggi apapun itu, sejauh apapun itu, seengga mungkin apapun itu… Terus langitkan mimpimu sampai semesta memeluknya, jangan pernah berhenti berharap dan percaya akan kekuatan doa.

Well, saya lagi berpikir untuk bikin list resolusi 2019 mumpung masih anget di awal tahun 😀

Kalau kamu, apa yang mau diraih di tahun ini?

Aviophobia?

Saya bukan tipe orang penakut kalau menyangkut masalah uji adrenalin. Gimana ngga, segala terjun payung paradasar aja saya semangat banget ikut seleksi sampai dengan selesai 7 kali penerjunan. Naik gunung pun saya jalanin yang udah otomatis saya akan berada di ketinggian dan saya sangat menikmati itu. Ga bisa dipungkiri!

Masalah naik pesawat, karena domisili saya di luar Pulau Jawa, udah otomatis saya rutin naik pesawat untuk pergi kemanapun dan saya juga menikmati pemandangan barisan awan dari balik jendela pesawat walaupun sensasinya beda dengan menikmati barisan awan dari atas gunung. Tapi saya tetap menikmati! Satu-satunya yang jadi masalah saya naik pesawat itu adalah saya jarang bisa tidur yang akhirnya jadi mati gaya.

Tapi… itu dulu kawan….

Sebelum adanya musibah pesawat ini dan itu. Sebelum saya banyak tau tentang berita ini dan itu. Sebelum saya banyak baca tentang ini dan itu. Walaupun katanya kecelakaan pesawat terbang masih menjadi kasus terjarang diantara alat transportasi lainnya, tapi tetap aja… Saya yang tadinya berani dan ga punya masalah apapun tentang naik pesawat terbang sekarang jadi ciut.

Dulu saya yang selalu nyemangatin teman saya yang takut naik pesawat terbang dan selalu bilang, kecelakaan bisa terjadi untuk apa saja dan dimana saja. Bahkan yang namanya maut ga bisa kita prediksi. Bahkan lagi jalan kaki pun kalau sudah ditakdirkan meninggal ya sudah tidak ada pilihan lain.

Tapi kenyataanya saya yang sekarang adalah saya yang keringat dingin mulai dari semalam sebelum berangkat, badan kaya meriang, perasaan ngga enak, ujung-ujungnya jadi marah-marah ga jelas. eh..but not sure am i in my PMS period? 😀

Yang jelas saya tersiksa dengan perasaan ini. Bahkan bunyi ga biasa sekecil apapun dari luar pesawat saat ini bisa buat jantung saya berdetak lebih kencang dan bertanya-tanya, “bunyi apa itu? bunyi apa itu?” dan selalu berpikir apakah pesawat ini udah ngelewatin “Critical Eleven” atau belum.

Perjalanan yang biasanya adalah hiburan untuk saya, saat ini (semoga sementara) malah jadi beban pikiran yang luar biasa menguras emosi. Saya ga tau sampai kapan saya akan merasa begini. Semoga aja ga dalam waktu yang panjang karena sejatinya hidup adalah perjalanan dan saya harus terus bergerak melawan rasa takut itu! Teriring pula doa setulus hati untuk seluruh korban pesawat JT 610 dan keluarga yang ditinggalkan.

Saat ini yang sedikit mengurangi kecemasan saya adalah suara dengkuran dari penumpang disamping saya. Setidaknya…saya harus belajar dari dia!!!

Ditulis dari seat 22B QG481
09.11.2018
11.36
azita sign out

Diposting dari satu sudut sebuah kota ketika sudah bisa tersenyum mengingat ketakutan tadi pagi. Ketakutan untuk pulang besok biarlah dipikir besok :p

Summit Rinjani

Lanjutan dari sini ya…

Pelawangan sembalun rame saat itu karena bertepatan sama event rinjani100, ada 1000an pelari yang bakal muncak besokannya. Beruntung ga barengan sama waktunya kita muncak, karena pasti jalurnya bakal rame banget.

Malam itu kami coba untuk istirahat lebih cepat setelah makan malam karena rencananya kita mau summit jam 1 pagi. Alhamdulillah sesuai rencana walaupun rada susah dibangunin, kita berhasil jalan jam 1 lewat setelah makan roti bakar dan teh hangat yang udah disiapin tim porter. Kita ditemenin sama mas bob guide kita yang ngga banyak ngomong tapi selalu bisa diandalkan 🙂

Saya seperti biasa selalu ada di urutan terakhir yang jalan dan melangkah pelan kaya siput. Bahkan menjelang sunrise, saya ngga bisa tahan lagi rasa ngantuk dan kebas di kaki, akhirnya kita putusin untuk berhenti istirahat dulu di tempat datar, dibuatin minuman hangat sama mas bob dan tidur 15 menit sambil selimutan pake sleeping bag. Thank you so much mas bob! You are my hero!!!! Setelah sunrise, orang-orang udah banyak yang mulai pada turun dan kami kebangun untuk siap-siap lanjut jalan lagi.

Matahari makin lama makin naik, makin panas, makin terik, orang yang turun makin banyak dan mental saya makin turun. Ga kehitung berapa kali saya minta untuk berhenti dan ga ngelanjutin perjalanan. Sebanyak itu saya minta berhenti, sebanyak itu juga teman saya semangatin saya untuk tetap jalan. Rasanya sama kaya mau melahirkan, karena kita udah nahan sakit yang segitu parah sampai kita ga sadar lagi apa yang kita omongin dan itulah pentingnya pendamping, buat nguatin, buat nyemangatin, buat ngeyakinin kalau perjuangan kita ngga akan sia-sia. Karena saya ngga tau apa yang bakal terjadi kedepannya, itu kenapa mulai dari sebelum berangkat, saya selalu bilang sama teman-teman saya “tolong paksa saya untuk jalan walaupun saya memohon untuk berhenti”. Untuk rutenya sendiri saya rasa masih lebih enak di Rinjani ini dibandingkan waktu summit ke Semeru yang pasirnya gembur banget. Di Rinjani ini relatif lebih keras dan gampang melangkah sebetulnya, jadi balik lagi..semuanya tergantung mental kita 😀 Segala cara udah dipakai mulai narik trekking pole sampai didorong. Bahkan teman saya yang udah duluan nyampe puncak sampai turun lagi buat nemenin saya muncak.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, jam 10 pagi akhirnya kami sampai di Puncak Anjani. Puncak  yang saya rindukan selama ini. Dari atas saya bisa lihat pemandangan yang luar biasa, yang ngga akan pernah bisa saya ungkapkan cantiknya dengan kata-kata. Yang ga akan pernah bisa saya lukiskan indahnya dengan banyaknya foto. Subhanallah…..

Diatas udah sepi, hanya tinggal beberapa orang termasuk 4 orang dari kami. Mas bob sigap buatin minuman hangat lagi untuk kami sementara kami foto-foto. Saya sendiri? Udah ga bisa banyak ngomong… apa yang ada didepan mata terlalu indah untuk ngga dinikmati.

Kami diatas hanya sampai jam 11 karena matahari udah semakin terik dan kita masih mau ngelanjutin perjalanan ke Danau Segara Anak. Perjalanan turun hanya sekitar 2 jam-an dan kita disambut dengan tim porter yang udah siap dengan makan siangnya. Kami udah disiapin nasi dengan lauk lengkap, tapi akhirnya saya minta dibuatin mie rebus dengan potongan cabe rawit untuk merayakan keberhasilan saya sampai ke puncak 😀

Jam 2 siang kami mulai jalan turun ke Danau Segara Anak. Rute turunannya itu berbatu-batu mulai dari batuan besar sampai kerikil, lebih susah saya rasa dibanding jalur dari pintu Sembalun ke Pelawangan Sembalun.  Saya ga bisa bayangin yang pada naik lewat jalur Senaru, perjuangannya luar biasa!

Dan namanya juga saya putri siput ya kan… jam 7 malam disaat teman saya udah rapi wangi didalem tenda sempat mandi segala, saya baru nyampe dengan tampang kucel ngos-ngosan dan hari udah keburu gelap. Malam itu ngga banyak acara kami, habis makan malam kami berburu bintang ditemani dinginnya malam 😀 Lanjut istirahat tenang dan bersiap untuk main ke air terjun dan berendam air panas besokannya.

DSC_1156

Selamat tidur semuaaa….

 

Pedih rasanya ngelanjutin tulisan ini ditengah seliwerannya berita tentang gempa di Lombok. Masih kebayang perjalanan saya di bulan Mei kemarin ini, dan ketika harus ngebayangin kondisi Lombok sekarang, saya hanya bisa berdoa semoga masyarakat disana bisa tabah, sehat selalu, tercukupi segala kebutuhannya dan semakin banyak yang bantu untuk menstabilkan lagi kondisi disana. Dan saya meneruskan cerita ini bukan karena saya ngga punya empati, tapi saya tetap ingin merekam perjalanan yang begitu berarti buat saya.

Mahal itu relatif!

Banjarmasin ini saya rasa termasuk kedalam salah satu kota besar di Indonesia karena Banjarmasin juga ibukota dari Kalimantan Selatan. Sayangnya bagi beberapa pihak penerbangan, ternyata Banjarmasin ngga sebesar itu untuk mereka ngebuka banyak penerbangan ke berbagai daerah dari sini. Dan karena saya bukan penduduk asli sini, otomatis saya masih harus sering bolak balik keluar masuk Banjarmasin untuk menuju banyak daerah di Pulau Jawa baik urusan kerjaan, pulang ke kampung halaman atau sekedar liburan.

Untuk tujuan dari/ke Jakarta dan Surabaya, dalam 1 hari ada banyak pilihan penerbangan dan harganya masih banyak dan sering di kisaran 500ribu-700ribuan. Tapi diluar daerah itu, rata-rata hanya ada 1 kali penerbangan dalam 1 hari. Bisa ditebak, hal kaya gini pasti bikin harga tiket suka seenaknya. Contohnya aja untuk penerbangan direct ke Bandung, saya udah hampir ga pernah dapet harga dibawah 1juta. Itu untuk hari biasa, jadi bisa dibayangin kalau lagi long weekend atau cuti bersama, itu tiket kalau harganya ngga tinggi banget, ya habis kejual. Begitu juga dengan tujuan Jogjakarta, yang hanya punya 1 kali penerbangan direct dalam 1 hari. Kalau cuma saya sendiri yang berangkat sih masih okelah, tapi ketika saatnya berangkat sekeluarga ya meringis juga x_x

Hal ini bisa disiasati dengan pilih kota terdekat dari tujuan sebetulnya. kaya misalnya mau ke Bandung lebih murah, ya pilih penerbangan ke Jakarta aja ntar lanjut lagi pake travel ke Bandungnya. Tapi memang bakalan lebih cape dan makan waktu. Jadi saya biasanya hitung-hitung dulu selisihnya berapa dengan penerbangan direct. Begitu juga dengan tujuan Jogjakarta, bisa kita siasati dengan ambil penerbangan ke Semarang karena ada 2 airlines yang melayani penerbangan ke Semarang, harganya masih manusiawi. Cuma harus dipikirin transport ke kota tujuannya. Sedangkan direct flight ke daerah selain di Pulau Jawa kaya ke Balikpapan, Makassar, Lombok, harganya sering masih bersahabat.

Masalah lain yang muncul karena monopoli rute penerbangan ini adalah kadang mau ngga mau saya harus ambil maskapai itu karena ngga ada pilihan lain atau ngga ada maskapai lain yang punya tujuan ke tempat saya mau pergi. Padahal udah terkenal paling banyak masalahnya dan paling sering delaynya. Saya punya teman yang anti banget naik salah satu maskapai yang selama ini paling banyak dicomplain. Bahkan dia rela naik kapal laut daripada harus naik maskapai ini. Kadang juga dibilang, ngapain sih naik itu? Jangan mentang-mentang murah trus rela nunggu delay terus-terusan. Tapi kenyataannya, maskapai itu juga ngga selalu jadi yang termurah kok. Kaya tiket yang saya beli buat minggu ini :

whatsapp-image-2018-07-30-at-13-58-49-e1532936819545.jpeg

Kalau liat harga kaya gini, mana yang diambil?

Yah pada akhirnya emang kita harus berdamai dengan keadaan supaya bisa tetap survive sih 🙂 mau dimanapun penempatan tugasnya dan seberapapun mahalnya tiket pulang, semoga saya dan keluarga dimampukan untuk bisa selalu pulang kapanpun kita mau 😀

Jatuh Hati Pada Rinjani

Bertahun-tahun saya afirmasi diri dan mencoba izin ke suami untuk bisa naik ke Gunung Rinjani ini. Alhamdulillah bulan Mei 2018 keinginan saya ini akhirnya tercapai. Untuk perjalanan ini, saya ambil paket trip lengkap, jadi saya tinggal bawa badan dan daypack. Semua urusan perlengkapan sampai makanan, udah diurus sama pihak tripnya termasuk guide dan porter.

Saya berangkat dari Banjarbaru tanggal 2 Mei karena tanggal 3 Mei paginya kita udah start jalan dari pos Sembalun. Saya dan teman dari Banjarbaru paling malam sampai di Lomboknya karena pesawat kami delayed, jadi teman yang dari Bandung dan Jakarta yang udah landing dari pagi harus rela nunggu sampai jam 8 malam dan kami dijemput di bandara untuk langsung jalan ke penginapan di Sembalun. Jam 1 malam kita sampai dan langsung istirahat, ngeringkuk dibawah selimut karena cuacanya dingin kaya di Bandung kisaran 17 dercel.

Hari ke 1

Dari penginapan ke pintu start Sembalun kita pake mobil pick up. Ini bisa menghemat waktu sekitar 2 jam dibanding kita jalan kaki katanya. Jalanannya terjal banget keliatan ga mungkin untuk dilalui mobil tapi nyatanya driver pick upnya udah terbiasa jadi meskipun mobil goyang heboh kanan kiri, kita bisa tiba dengan selamat di pintu Sembalun. 2 orang guide, 3 orang porter, 4 anak manusia yang ngga ada kapoknya naik gunung,  siap jalan menapaki Rinjani.

Dari pintu sembalun, kita jalan sampai pos 2 dengan rute yang masih manusiawi. Pemandangannya pun cantik hijau di sekeliling kalau pas kabutnya ngga turun. Kita makan siang dan istirahat sampai sholat dzuhur di pos 2 ini.

But, buat temen-temen yang ngga mau terlalu cape… i found out ternyata ada ojek yang bisa nganter kita sampai di pos 2. saya ga tau ya pro kontra masalah ini, tapi ya namanya orang nyari rejeki kali ya, selalu ada banyak jalan yang ditempuh.

di pos 2 ini juga ada bilik-bilik toilet, tapi kemarin waktu saya kesana itu toilet masih disegel. infonya saat ini udah bisa dipakai itu toilet dan berbayar, cmiiw please.. harapannya, dengan ditarik bayaran semoga kebersihannya terjaga ya.

 

20180503_114803

jangan khawatir, di pos 1, 2 dan 3 ada warung beginian yang jualan minuman dingin =D

20180503_120431.jpg

ga pake cape masak, begitu nyampe di pos 2 bisa langsung istirahat dan makan siang

DSC_0858

saung-saung ini ngebantu pendaki buat istirahat

20180503_130541

20180503_171123

sepotong kue ini kerasa nikmat banget, penolong perih perut ditengah jalur

20180503_175538

20180503_143232

sebelum disiksa jalur, senyum dulu 🙂

Selesai makan siang dan sholat dzuhur, kita lanjut lagi jalan ke pos 3 dengan rute yang udah sedikit bikin napas kembang kempis. Tapi jangan sedih, karena sebetulnya perjuangan baru dimulai dari pos 3 itu 😀

Dan selama ini saya sering baca ada 7 bukit penyesalan di jalur Rinjani, saya bertanya-tanya kok kayanya ga naik turun bukit ini jalurnya. Tapi bener-bener naik terus ga ada ampun…setelah saya tanya, ternyata kita ngga lewat 7 bukit penyesalan itu, tapi lewat tanjakan penderitaan. Jangan ditanya gimana lambatnya saya jalan. Prinsip saya sih gapapa jalan lambat yang penting sampai dengan selamat. Karena ngumpulin tenaga buat napas aja itu udah ngabisin energi banget. Disini saya pakai metode penghiburan yang sama setiap kali saya naik gunung, 30 langkah jalan, 30 detik istirahat. Kalau ngga gitu, mungkin saya akan kebanyakan istirahatnya dan ngebuat perjalanan ini kerasa semakin lama. Saya juga sering berhenti untuk ngajakin foto-foto, padahal itu modus doang supaya bisa istirahat lebih panjang dan teman saya ada yang sebel banget untuk masalah ini 😀 untuk itu, penting banget kita pilih teman jalan yang pas. Di tim saya ini, isinya 4 orang, 1 orang hobinya foto, saya sendiri hobi difoto, 1 orang anak bawang yang ikut aja apa kata seniornya =p dan 1 teman lain hobi jalan terus supaya cepat sampai dan disinilah kita saling melengkapi.

20180503_175840

liat bentuk kaya angka 3 diatas sana? itulah jalur menuju puncak

20180503_183147

Karena lambatnya saya jalan, saya baru sampai di Pelawangan Sembalun itu pas matahari udah terbenam, jadi ngga sempat banyak foto-foto. Dan ternyata lokasi tenda kita itu masih jauh dari ujung tanjakan tempat kita muncul, angin dingin dan badan yang cape sempet bikin saya drop kedinginan dan jari tangan kaku-kaku. Setelah sampai di tenda, bersih-bersih badan, ganti baju, makan malam dan kitapun persiapan tidur karena mau langsung summit jam 1 malam itu juga.

Nyambung lagi nanti ya…

Dan video perjalanan kita ke Rinjani ini bisa dilihat disini