Menyapa Edelweiss dan Arjuna dari Puncak Ogal Agil

Janganlah kita mencoba menaklukkan ganasnya alam, tapi belajarlah untuk menaklukkan ego serta mengetahui batasan diri kita sendiri”-Norman Edwin-

cerita ini lanjutan dari Mencumbu Arjuna

Alhamdulillah, akhirnya jam 4 datang juga. Setelah siap-siap ninggalin tenda akhirnya kita langsung jalan tanpa minum atau makan dulu karena kayanya pada males. Begitu keluar tenda, langsung kerasa anginnya lumayan kenceng sampai suaranya berdesing-desing nampar pipi. Dan seperti yang udah-udah lah ya..jalanannya ini full nanjak ga pake ampun dan tanpa bonus track. Bisa keliatan sekelebat-sekelebat pohon edelweiss gundul di kiri kanan jalanan yang kita lewatin. Setelah 1 jam lebih nanjak, sampai deh kita di tanah terbuka yang katanya adalah pos 5. Beruntung juga sih malemnya kita ga nerusin jalan dan ngecamp di pos 5 karena disini tanahnya lebih terbuka yang artinya kemungkinan bakal lebih dingin.

Dari pos 5 katanya udah deket banget ke puncak. Dan saya…..udah mulai keabisan tenaga sampai minta tarik sama Mr.M and it helps a lot!!! Tapi sebenernya jalur ke puncak ini ga terlalu susah sih karena konturnya batuan jadi pijakan kaki juga mantap kalau dibandingin dengan jalur ke Mahameru.  Apalagi mendekati puncak, kayanya ada yang emang sengaja nyusun batu-batuan menyerupai tangga jadi ngebantu banget buat kita naik atau turun ke puncak. Menjelang sampai ke puncak, kami berlomba dengan semburat orange yang udah mulai muncul sedikit demi sedikit dan munculin bayangan Gunung Arjuna dengan begitu gagahnya di belakang kita. Alhamdulillah jam 6 pagi itu kita berhasil sampai di Puncak Gunung Arjuna dengan ketinggian 3339 mdpl. Di atas puncak Gunung Arjuna ini sepi ga ada siapa-siapa padahal sebelumnya kita liat ada sinar dari headlamp waktu kita masih jalan keatas. Ternyata itu adalah mereka yang jalan ke Puncak Ogal-Agil. Oh well saya baru tau kalau ternyata 2 puncak itu adalah puncak yang berbeda. Akhirnya setelah istirahat sebentar di Puncak Arjuna, kita turun lagi sedikit untuk naik ke Puncak Ogal Agil. Dari kejauhan udah keliatan ada orang-orang diatas Puncak Ogal Agil dan ternyata ada juga yang ngecamp di puncak. Hebat!!!

sunrise diatas Gunung Arjuna

hai cantik 🙂

IMG_0966

Puncak Gunung Arjuna

IMG_0965

pemandangan dari puncak arjuna, gn putri tidur di

PhotoGrid_1433828884317

katanya puncak Arjuna ini 3339 mdpl tapi di GPS angkanya 3340 mdpl

IMG_0978

Puncak Ogal Agil

Disini saya sedikit sedih karena di hampir semua bebatuan besar yang ada di Puncak Ogal Agil maupun Puncak Arjuna udah ga bagus lagi karena udah banyak “kenang-kenangan ga penting” dari oknum sok keren yang naik kesana. Saya sih ga ngerasa diri sendiri keren juga, tapi saya cukup tau diri untuk ga ngerusak atau ngotorin apa-apa yang ada di alam. Coba bayangin andai batu-batu ini bersih, pasti mata jadi tambah adem ngeliat pemandangan sekitar. So guys..let’s keep our nature clean for our next generation 🙂

PhotoGrid_1433828796520

kaya gini gimana bersihinnya ya?

Setelah puas diatas dan karena kami ngejar waktu supaya sore udah bisa sampai di surabaya, jadi kami langsung turun. Di sepanjang jalan turun baru saya bisa lebih leluasa liat pemandangan, ada barisan Gunung Semeru juga yang saya lambungkan janji supaya bisa balik lagi ke Mahameru suatu saat nanti. Ada juga the famous Pasar Dieng yang banyak saya baca dimana-mana. Ternyata ini udah deket banget ke puncak. Selain itu ada juga tempat yang disebut “pemandian” tapi tanpa air yah! Oh ya lupa mention kalau di jalur ke puncak ini di beberapa spot nya ada sinyal loh jadi kalau pas handphone kebetulan nyala suka ada notif sms masuk. Walaupun kayanya internet  sih ga bisa ya..jadi yang mau upload foto, tunggu udah sampai dibawah aja 😀

IMG_0996

pemandian tanpa air.. ada yang tau kenapa disebut pemandian?

IMG_0999

takkan lari gunung dikejar.. tunggu saya ya 🙂

IMG_1001

IMG_1002

diperjalanan turun yang bikin leher pegel karena nunduk terus

IMG_1013

Perjalanan balik ke tenda ga makan waktu lama, jam 8 kurang kita udah di tenda lagi dan sarapan bentar dilanjut packing dan lanjut turun. Awalnya prediksi kami paling lambat jam 2 siang udah bisa sampai di start point so jam 6 maksimal saya udah bisa check in penerbangan pulang ke banjarmasin dari surabaya. Tapi itu rencananya……kenyataannya?

ah sudahlah..saya lanjutkan nanti aja 😀

Alhamdulillah terima kasih ya Allah udah kasih kesempatan lagi untuk bisa menikmati ciptaan-Mu yang begitu indah….kalau boleh minta kesempatan lagi ya Allah…tahun depan saya pengen ke Rinjani..tolong dicatat yah ya Allah.. 😀

Aamiin

Mencumbu Arjuna

Kuluk,,kuluk,,kuluk

Kalau udah kedengeran bunyi kaya gitu artinya jarak kami dengan Mr.M udah kejauhan dan saya pun berusaha jalan lagi untuk ngejar ketinggalan langkah.

Menjelang akhir bulan Mei sejak dikasih tau temen kalau ada yang mau naik ke Gunung Arjuna, saya langsung iyain dulu untuk ikutan dan mikir izin belakangan. Habis itu baru googling tentang Gunung Arjuna itu sendiri karena saya dan temen jalan saya juga belum pernah naik ke Gunung Arjuna ini. Waktu seminggu saya pakai untuk cari info tentang tempat start pendakian daaaaan yang terpenting adalah kontak yang bisa dihubungin untuk bantuin bawa barang alias porter. Ya hari gini kan ya,,maunya saya ga repot bawa –bawa barang secara bawa badan sendiri aja udah ngos-ngosan 😀 setelah ngubek-ngubek puluhan halaman di google, akhirnya dapetlah 1 nomor telpon yang lalu secara estafet menghubungkan saya dengan seseorang yang mari kita sebut saja Mr.M ini. Emang sih menurut beberapa catatan perjalanan orang-orang yang udah pernah naik ke Arjuna, katanya gampang aja kok cari porter untuk naik Arjuna karena setiap hari banyak warga turun naik. Tapi kan tetep aja ya sebagai orang yang harus serba organized dan supaya bisa enak tidur, maka semuanya harus udah fixed sebelum berangkat..hehe

Singkat cerita, dari sekian banyak pilihan jalur pendakian kami akhirnya pilih naik lewat Batu (Selecta). Dari informasi yang kami tau untuk naik lewat Batu Selecta ini pintu masuknya lewat Sumber Brantas. Tapi yang terjadi adalah Mr.M ngajak kami naik lewat Sumber Gondo yang ada diatas Desa Punten (dekat rumahnya) dengan pertimbangan jarak tempuh yang lebih singkat. Okelah ya..sebagai yang sama-sama ga tau arah dan tujuan jalur, kami ngikut aja kemana Mr.M melangkah. Jadi jangan harapkan saya cerita ketemu dengan pendaki lain atau penambang belerang atau candi-candi yang banyak ditemuin di jalur lain ya.

pertigaan Sumber Gondo dengan pemandangan Gunung Panderman. Tanjakannya ada dibelakang saya

pertigaan Sumber Gondo dengan pemandangan Gunung Panderman. Tanjakannya ada dibelakang saya

Dari pertigaan ini kami mulai jalan ngelewatin perkebunan sayur yang seger-seger banget. Sejauh yang saya liat ada lobak, wortel, brokoli dan yang lain saya ga tau namanya. Malahan ada yang abis panen nawarin kita untuk bawa brokolinya buat bekal diatas. Ih kalau itu perjalanan turun, saya terima dengan senang hati deh tawarannya. Secara disini brokoli sekilo 60ribu, saya langsung niat pulangnya pengen nyari rumah yang abis panen brokoli, bawa 5 kilo juga belom overweight kok :p

IMG_0932 IMG_0931

Perjalanan kami ini bener-bener nanjak aaalllll the waayyy dan surprisingly jalurnya itu adalah jalur tertutup dan bikin kami kadang kesulitan jalan karena jalanannya ketutup semak, akar, rumput sampai pohon tumbang. Mulai dari jalan badan tegak, jongkok sampai merangkak you named it kami jalanin demi bisa nembus jalurnya. Luar biasa yah si Mr.M ini…lupa kali yang dibawa pendaki amatiran X_X dan kalau lewat jalur ini harus diingat juga kalau ga ada sumber air sama sekali. Jadi harus bawa stok air yang cukup untuk naik sampai turun lagi. But hey….i’ll tell you some secret..ternyata yah si Mr.M ini punya simpenan air di beberapa titik di sepanjang jalan yang katanya emang sengaja disimpen baik sama dia ataupun sama temen-temen komunitasnya. Oh ya..komunitasnya ini namanya Cansabalas, will tell you ‘bout this community later.

IMG_20150608_151617 IMG_20150608_151552 IMG_20150608_151510 IMG_20150608_151420 IMG_0933

Harapan saya awalnya bisa ketemu orang yang naik atau turun Gunung Arjuna ini..tapi harapan tinggallah mimpi demi melihat keadaan jalan yang seakan ga pernah ada orang lewat situ. Satu-satunya tanda pernah ada orang adalah adanya kayu-kayu yang disusun untuk rangka bivak yang saya temukan dengan hati senang. Sayangnya pohon-pohon edelweiss saat ini masih kosongan belum berbunga, sekalinya ada pun bunganya masih belum terlalu mekar tapi tetap cantik as always.

IMG_0937

tanda-tanda seseorang pernah disana 😀

IMG_0942

pohon edelweiss di tengah perjalanan ke pos 3

IMG_0946

masih pada gundul

IMG_0945

ada yang berbunga di pohon yang tinggi

Di sepanjang perjalanan ada pos-pos tempat kami berhenti, yang dimaksud pos ini bukan bangunan berbentuk pos kaya perjalanan dari ranupane ke ranukumbolo yah, tapi cuma tanah datar aja tempat bisa ngelurusin kaki dan muat untuk 1 tenda. Ga perlu juga lama-lama istirahat di pos ini karena selain kalau lebih lama diam bakal kerasa dingin, juga karena jalanannya nanjak terus jadi baru berdiri dari istirahat pun baru 2 langkah jalan saya udah istirahat lagi ambil napas, jadi mendingan istirahatnya sambil jalan aja. Lama perjalanan kami dari start point ke pos 1 itu 2 jam. Ketinggian pos 1 ini 1676 mdpl. Dari pos 1 ke pos 2 juga 2 jam.ketinggian pos 2 ini 2109 mdpl. Nah dari pos 2 ke pos 3 ini yang rada berat karena tanjakannya udah mulai ga pake ampun, kita ngabisin 3 jam. Ketinggian pos 3 ini 2592 mdpl. Terakhir dari pos 3 ke pos 4 juga 3 jam dan bisa dipastikan baterai badan saya soak. Ibarat handphone mah udah bunyi-bunyi lowbat terus sejak dari pertengahan jalan menuju pos 3 dan akhirnya mati di pos 4. Yang tadinya mau diterusin sampai pos 5 akhirnya kami nyerah jam 19.30an malam itu dan diriin tenda di pos 4 dengan ketinggian 2974 mdpl.

jangan menyerah!!!! ya ga mungkin juga kali berenti ditengah jalan sendirian

jangan menyerah!!!! ya ga mungkin juga kali berenti ditengah hutan sendirian

Setelah bersih-bersih badan, ganti baju dan makan mie kuah dilanjut minum 2 gelas teh hangat plus 1 gelas susu, badan udah mulai lumayan enak dan bersiap tidur setelah pakai baju berlapis-lapis. Iya..karena toleransi saya untuk cuaca dingin sangat minim, jadi saya pakai long john yang dilapis baju biasa plus 2 kaus kaki dan jaket lengkap dengan topi plus ruff untuk nutupin muka sebelum masuk ke sleeping bag. Itupun saya masih kebangun-bangun ga bisa tidur nyenyak -_- rasanya pengen bangunin Mr.M yang tidur diluar tenda dan minta tolong nyalain api supaya saya bisa tidur didepan api aja. tapi saya terlanjur malas keluar tenda lagi dan berharap jam 4 subuh cepet datang supaya bisa lanjut summit attack.

IMG_20150608_163645

bulan malam itu cantiiik banget, walaupun ga banyak bintang yang nemenin 🙂

Bersambung ke menyapa edelweiss dan arjuna dari puncak ogal agil