Mengunjungimu lagi pah ^^

“Assalamualaikum..”

Sepi…hening ngga ada jawaban dan cuma kedengeran suara tonggeret waktu aku masuk kerumah papa. Khas sekali…

Tapi ya untungnya ngga ada yang nyaut juga sih karena kalau ada pasti aku bakalan merinding karena saat itu ngga ada siapa2 didalam.

Hai papa,
Setelah sekian lama ngga berkunjung, akhirnya aku punya kesempatan untuk dateng lagi kerumah papa, nengokin papa cuma untuk sekedar say hello, bersihin sedikit dedaunan yang rontok kebawa angin dan masuk ke halaman rumah papa.

Tahun ini ngga ada cerita istimewa tentang aku atau yang lain. Tapi aku punya cerita baru yang aku dapet dari uwa uun waktu nungguin mama di rumah sakit. Uwa cerita waktu aku kecil katanya aku paling suka minta dipangku sama papa tapi saat itu papa udah sakit2an dan papa bilang ngga kuat pangku aku… Sedih banget aku! Bukan sedih karena papa ga bisa pangku aku, tapi sedih ngebayangin sakit yang pasti papa rasain.

Setelah selesai aku main kerumah papa, aku dateng ke rumah papa waktu kecil, rumah yang biasanya aku datengin tiap lebaran, rumah yang sekarang jadi tambah ramai karena uwa2 bikin rumah juga disana. Pengeeen banget kapan2 ikut tidur lagi disana, mengenang masa kecil yang tiap lebaran tidur berderet2 kaya ikan asin lagi dijemur.

Aku ketemu juga sama uwa Tati Kuswati Anggawisastra dan abah, yang kalau dari cerita mamah setelah papa pergi dulu aku sempet dititipin sama uwa tati ini karena aku rewel banget dan mamah pusing jadinya.. Ya maklumlah ya pah, mungkin dulu aku bingung dengan apa yang terjadi jadi bisanya cuma nyari perhatian aja

Trus ada uwa Djodjo Sutardjo yang dulu sering banget ngajakin aku dan keponakan yang lain jalan2 kalau abis libur lebaran, ya ke taman safari, ke pangandaran, kemana2 deh… Uwa ini juga cerita tentang apih oma anggawisastra, no wonder lah ya pah kalau anak cucunya apih oma banyak yang concern dengan dunia pendidikan, ngajar dan tulis menulis. Karena kami cucunya apih oma, and yes i’m proud to be anggawisastra-ers. Uwa djodjo betul seharusnya ada yang mulai menulis tentang Oma Anggawisastra ini karena sejarah akan hilang kalau tidak ditulis atau diceritakan turun temurun. Sayang aku tinggal jauh dari Majalaya jadi ga bisa leluasa cari bahan dan narasumber (ini bukan kode minta pindah mutasi ke bandung kok ya Allah, jangan catat dulu ya)

Kemarin aku juga dibikinin sambel kampung sama bi Etty Anggawisastra, ini udah 3 hari aku makan ulen dicocol pake sambel terasinya.. Rasanya enak pah, sama enaknya kaya makan sampe puas di sushi tei trus dibayarin.

Kemarin juga aku ngga lupa untuk foto2 sama semuanya pah karena aku pengen punya kenang2an sama semuanya. Walaupun uwa ngkus, mang Dian S Anggawisastra, abah harus aku paksa2 buat foto 󾌴 katanya, “euleuh meni popotoan sagala” ya biar aja ya pah, karena aku ngerasain foto itu penting untuk membingkai kenangan. Sama seperti aku mengenang papa lewat foto, karena semua saudara papa udah jadi orang tua aku sejak papa pergi 29 tahun yang lalu.

Terima kasih zita haturkan untuk semua uwa, emang, bibi yang udah anggap zita jadi anak sendiri, semoga semuanya selalu dikasih kesehatan, rezeki yang selalu mengalir dan keberkahan dalam hidupnya ya.

Dan tentu aja, aku juga ga lupa foto sama rumah papa. Aku tinggalin bunga sedap malam kesukaan papa, semoga pas aku udah sampai lagi di banjarmasin, bunganya udah mekar dan wanginya bertahan untuk mengikat aku sama papa sampai aku bisa dateng lagi

Dan di hari ulang tahun papa ini, aku berharap teman2 dan saudara2 semua berkenan melambungkan doa untuk papa semoga diampuni segala dosa, dimaafkan segala kesalahan, diterima segala amal kebaikan dan dimasukan kedalam golongan ahli surga.. Aamiin…

Sampai jumpa lagi di kesempatan selanjutnya ya pah dan terima kasih untuk sudah menjadi papaku… Everything never be the same without you as my father ☺️

Dari,
Anak bungsu yang (selalu) jadi gadis kecilmu

In Memoriam,
Ir. Han Ruhana Anggawisastra, MBA
19.05.1954 – 26.07.1987

Advertisements

Dongeng Walet

Hai teman,

Hari ini saya mau berbagi 1 cerita, salah satu dongeng yang termasuk didalam dongeng dunia tepatnya yang berjudul Pangeran Bahagia (Irlandia).

Cerita ini tentang persahabatan seekor walet dengan seorang (patung) pangeran. Pangeran ini semasa hidupnya selalu bahagia tinggal di istana dan tidak pernah kekurangan suatu apapun, sampai akhirnya pangeran meninggal dan dibuatkan patung dirinya yang terbuat dari emas, bagian matanya terbuat dari batu permata dan ujung tongkatnya memiliki batu rubi yang sangat indah.

Ketika menjadi patung itulah pangeran baru menyadari kalau ternyata banyak rakyatnya yang hidup dalam kesusahan. Dan saat walet yang kelelahan ketika terbang bermigrasi beristirahat di kaki patung sang pangeran, sang walet menyadari kalau patung pangeran menangis. Pangeran bercerita kalau dia sedih melihat rakyatnya kesulitan. Sebetulnya sang walet hanya mau beristirahat sebentar dan akan menyusul kembali rombongannya. Namun karena walet mau membantu pangeran, maka diutuslah sang walet untuk melucuti satu persatu bagian berharga dari tubuh patung pangeran untuk diberikan kepada rakyatnya yang membutuhkan mulai dari batu permata, rubi di tongkat dan lapisan emas di tubuh hingga akhirnya hanya tersisa logam kusam ditubuhnya dan walet meninggal kedinginan dibawah patung pangeran. Seluruh tubuh pangeran akhirnya dihancurkan karena akan dibangun patung yang baru. Namun ada satu bagian pangeran yang tidak dapat dihancurkan yaitu hatinya. Dan akhirnya Tuhan memerintahkan para malaikatnya untuk mengambil hati sang pangeran dan jasad burung walet karena akan menempatkan mereka di Surga-Nya.
(63 dongeng terbaik dunia dari 5 benua, hal 238-243)

Yang menarik adalah bagaimana walet yang tadinya hanya mau beristirahat sebentar saja akhirnya malah memutuskan membantu sang pangeran. Terlebih ketika kedua bola mata pangeran sudah dicungkil sehingga tidak dapat melihat lagi, sang walet setia menemani dan membantu pangeran untuk menolong rakyatnya yang kesusahan. Sifat setia dan gemar menolong walet ini harus kita cermati terlebih walet adalah hanya seekor burung kecil namun banyak sekali manfaatnya. Walet sendiri tidak memiliki alat pertahanan tubuh yang canggih, mereka selalu waspada dan selalu terbang berkelompok. Untuk mengatasi minimnya alat pertahanan tubuh, walet memiliki sifat selalu berhati-hati dan waspada terhadap segala jenis situasi dan kondisi. Keistimewaan lain dari walet adalah dari sarangnya yang memiliki banyak manfaat mulai dari menyembuhkan berbagai penyakit hingga memperlambat penuaan.

Dari sini saya mengerti kenapa seseorang bisa memiliki julukan “Walet”.

Saya mengenal seorang “walet” yang memang memiliki sifat-sifat seperti burung walet ini. Dimana dirinya memiliki banyak manfaat untuk orang lain di sekitarnya dan kebaikannya menyebar. Meskipun suara walet bising dan tidak merdu tetapi nilai ekonomisnya tinggi.

Seperti dirinya yang begitu berharga, dicari dan ditunggu banyak orang. Kelasnya tinggi tanpa perlu berteriak-teriak menunjukkan statusnya.

Selamat Ulang Tahun Walet Tersayang, Ibu Soelistyo Probowatie…
Tetaplah terbang tinggi, membuat sarang dan memberikan manfaat serta menebar kebaikan bagi banyak orang.
We Love You,
Anak Burung13267729_10208967511646351_787280926644087273_n

Garuda di hidupku

15.05.2016

Waktu saya ikut training di hanoi tahun lalu, di minggu pertama trainernya minta kita bercerita tentang sosok pimpinan yang kita kagumi dan mengapa beliau bisa sampai kita kagumi.

Saya berpikir keras….diantara sekian banyak pimpinan yang saya kagumi dan idolakan akhirnya saya pilih seseorang yang saya anggap paling memiliki andil didalam pembentukan karakter saya dalam dunia kerja karena beliaulah pimpinan pertama saya.

Tentang mengapa saya mengganggap beliau cocok jadi panutan dan idola adalah tentang sikap beliau yang selalu memberikan contoh didalam setiap perintah. Tanpa perlu berteriak dan tarik urat, beliau memerintahkan disiplin waktu dengan hadir lebih dulu di lapangan apel. Beliau juga yang dengan sabarnya memanggil peserta apel bergiliran ketengah lapangan untuk berbicara sepatah dua patah kata didalam bahasa inggris dan sabar untuk tidak beranjak dari hadapan kita jika kita belum mengeluarkan suara. Begitulah beliau mengajarkan keberanian, how to push your limit!

Dan beberapa hari lalu sewaktu saya buka lemari, saya menemukan tape recorder yang beliau sediakan untuk kami para taruna yang sedang praktek kerja di kantor tempat beliau memimpin dan saat itu sedang menerima materi tentang document fraud. Sewaktu akan dikembalikan, beliau hanya berpesan semoga bermanfaat dan pesannya jelas sekali, jangan lihat siapa yang mengajari tapi lihat apa yang diajarkan. Selama itu baik, terimalah!!!

Sampai hari ini jelas kami selalu merindukanmu..
Hanya doa yang bisa dipanjatkan semoga dengan segala amal kebaikan yang engkau lakukan semasa hidup, dapat menjadikan mulus jalanmu menuju surga-Nya

Insha Allah, aamiin aamiin aamiin…

Dari,
Saya yang bangga pernah mengenal bapak 😊

-memperingati hari lahir Mr. Doddy M Wibowo-

View on Path

Bukan Teman Biasa

Trauma setelah melahirkan pasca SC anak pertama membuat saya berpikir ulang ketika memutuskan untuk memulai program untuk hamil lagi. Namun setelah akhirnya saya hamil, pelan-pelan saya mengikis trauma tersebut sampai akhirnya lahirlah anak kedua.

Sayangnya beberapa saat setelah melahirkan, cobaan berikutnya datang yaitu dengan mendadak berhentinya ART yang biasa membantu dirumah. Dengan kondisi ada 1 balita dan 1 bayi serta kurangnya dukungan inner circle cukup membuat saya kelelahan baik fisik maupun pikiran. Ditambah di minggu awal kelahiran bayi yang harus dirawat di ruang perinatal karena bilirubin yang mencapai angka 21 mengharuskan saya rutin pumping setiap 2 jam tidak peduli pagi, siang ataupun tengah malam.

Stres?
… Pasti …

Nangis?
… Jelas …

Marah?
… Tentu …

Apa yang bisa saya perbuat saat itu selain menerima keadaan? Nothing…

Tapi tahukah kawan… disaat saya merasa sendirian, merasa paling susah, merasa paling merana karena jauh dari keluarga, nun jauh disana ada banyak yang menyemangati saya untuk tetap bertahan dan saling menguatkan. Walaupun sebelumnya kita hanyalah orang lain yang tidak saling mengenal namun dipertemukan didalam satu komunitas yang sama dan merasa cocok satu sama lain walau sering juga berseberangan pendapat.

Kita semua memang tersebar di berbagai kota dan bahkan saya belum bertemu dengan sebagian besar dari mereka. Tapi hangatnya hati dan tulusnya persaudaraan yang ditawarkan membuat saya tidak pernah merasa sendiri. Sampai akhirnya hari ini tidak terasa sudah 3 tahun lebih kita menghabiskan waktu bersama. Ya! 3 tahun bersama yang setiap harinya diisi dengan obrolan yang tidak pernah kehabisan topik untuk dibahas. Mulai dari urusan anak, dapur, fashion terbaru, informasi diskon apa dimana dan segala tetek bengek lainnya.

Tidak salah jika tahun ini saya sempatkan hadir di event 3rd birthday bash anak-anak kami di Bogor bulan lalu. We were having so much fun! Saya ga menyesal sudah jauh-jauh datang karena akhirnya saya bisa bertemu lagi dengan teman-teman dan keluarga hebat yang selama ini hanya bisa komunikasi lewat aplikasi chatting.

Tanpa mereka, mungkin saya tidak bisa melewati saat-saat berat waktu itu.
Dan tanpa mereka, hidup saya saat ini mungkin tidak akan sama.

So that’s why I called them family ☺

Thank you TUM March+2013 Birth Club, you rock!!!!

Dan untuk mom to be diluar sana, even we know that every mom and family has their own battle, but support group is a must!

Thank you so much mama melati yang udah jadi superb  host, pelukcium!!!

Artikel lengkap tentang serunya acara ulang tahun March+2013 bisa dilihat disini, blognya mama melati as a host 🙂