Lamun Keyeng Tangtu Pareng

Peribahasa sunda diatas artinya kurang lebih adalah “kalau diusahakan dengan sungguh-sungguh, pasti akan tercapai apa yang kita usahakan itu”. Saya emang terbiasa denger kata keyeng dari mamah saya (orang bangka kelahiran bandung) yang selalu bilang, kalau punya keinginan itu yang penting keyeng aja!

Dan begitulah, saya selalu memimpikan untuk bisa pergi ke jepang apalagi setelah saya diterima jadi mahasiswi fakultas pendidikan bahasa jepang UPI Bandung. Dulu cita-cita saya emang cetek banget…mau pergi ke jepang tapi ga tau gimana caranya. Jadi ya minimal belajar bahasanya aja dulu deh :p sampai pas lagi asik-asiknya kuliah di semester 3, ternyata saya harus banting setir putar haluan untuk jadi abdi negara.

Sekitar tahun 2013 (kalo ga salah), mamah saya sempet drop dan dirawat di rumah sakit. Sayapun terbang untuk nemenin mamah di Bandung. Dan tiba-tiba kakak saya nomor 2 kasih kabar kalau dia lulus seleksi untuk beasiswa S3 di Jepang. Alhamdulillah berita baik ini bisa jadi penyemangat untuk mamah supaya bisa cepet sehat lagi. Dan beberapa tahun setelah itu, mamah bilang pengen nengokin kakak saya ke Jepang sebelum selesai kuliahnya. Wah.. kondisi mamah saat itu jelas ga mungkin untuk bisa pergi sendirian apalagi ini hitungannya pergi jauh dan ketempat yang bahasanya bukan bahasa Indonesia apalagi bahasa sunda. Maka saya pun langsung berniat dalam hati, pengen nemenin mamah walaupun belum kepikir gimana caranya. Singkat cerita, sampailah waktunya kakak saya mendekati akhir kuliah dan omongan tentang pergi ke Jepang mulai dibuka. Ternyataaaa…. Kakak saya yang pertama juga mau berangkat nemenin. TAPIIIII sekeluarga!!! Jreng…jreng….. saya langsung kepikiran, yaampun….pasti seru banget kalau saya juga bisa ngajak suami dan anak-anak. Bimbang, ragu dan labil lah saya waktu itu melototin tabungan, ngorehin celengan, hitung-hitung estimasi kebutuhan, dan bongkar-bongkar lipatan baju siapa tau ada uang nyelip. Setelah perundingan dan perenungan yang ngga makan waktu lama karena ngejar tiket murah, akhirnya saya putuskan semua berangkat!!! Apapun yang terjadi, we are family and family means nobody gets left behind..ciyeee cembetull aje!!! Karena saya ga yakin juga sih bisa bersenang-senang dengan ninggalin mereka dirumah. Maka setelah hari itu, perjuangan pun dimulai dengan ngurus hal-hal ini, selain mulai mengencangkan ikat pinggang demi sangu untuk liburan :

  1. Paspor

Paspor suami dan Edelweiss udah habis berlaku sedangkan Arjuna belum punya paspor. Alhamdulillah untuk ini ga ada masalah karena saya tinggal boyong pasukan ke kantor untuk foto paspor walaupun ternyata ngarahin anak sendiri itu lebih susah dibanding ngarahin anak orang untuk foto paspor.

21192081_10213444268682479_1497737950828210798_n

  1. Tiket

Tiket dibeli lewat situs online dan keluarga kami ketambahan satu personil yaitu (tante) mertua. Karena ada pembatasan waktu untuk transfer pembayarannya, saya sedikit kewalahan juga karena uang yang ada hasil “kokoreh” itu terpencar-pencar. Alhamdulillah bisa kebayar lunas walau harus nyicil berkali-kali transfer. Untuk penerbangan dengan tanggal dan rute yang kita mau, kita dapet Japan Airlines dengan harga yang lumayan terjangkau.

  1. Visa

Untuk urusan visa, saya googling persyaratannya dan ternyata untuk rombongan sirkus kami harus apply visa di kedutaan jepang yang ada di Surabaya. Karena apply visa jepang ini emang dibagi berdasarkan lokasi dan kebetulan kalimantan selatan masuk ke wilayah kerjanya Surabaya. Jadi kami pisah rombongan dengan yang di Jakarta. Awalnya saya mau urus sendiri masalah visa ini. Tapi akhirnya ipar saya ada kasih rekomendasi travel agent yang biasa urus visa di Surabaya. Akhirnya saya deal dengan travel itu dengan harga yang masuk akal juga dibanding saya urus sendiri dan berangkat ke Surabaya (dengan pertimbangan tiket pesawat pulang pergi, nginep dan segala macemnya). Hartono Travel namanya.. recommended deh. Dokumen dikirim via ekspedisi (saya pake JNE) dan urusan visa ini selesai dalam waktu kurang lebih 2 minggu. Persyaratan lengkap sih bisa dilihat di webnya kedutaan Jepang ya. Rombongan Jakarta juga urus visa lewat travel agent dan alhamdulillah lancar walaupun punya mamah sempat tertunda karena masa berlaku paspornya kurang dari 1 tahun dan akhirnya saya anterin dulu untuk penggantian paspor di Kantor Imigrasi Bandung.

  1. JR Pass

Karena perjalanan kami dimulai dari Tokyo dan akan berkunjung ke bagian selatannya Jepang yaitu kota Kumamoto dan akan kembali lagi ke Tokyo , maka kami wajib beli JR Pass ini sebelum berangkat karena kalau harus beli tiket eceran di Jepang, wassalam deh.. bisa bangkrut kita. Dengan harga Rp.3.439.000 (untuk dewasa) dan Rp.1.719.500 (untuk anak) kita bisa puas naik shinkansen  (kereta peluru alias kendaraan yang diklaim sebagai yang tercepat) kemanapun di Jepang selama 7 hari. Sebetulnya untuk Arjuna masih bisa gratis naik shinkansen ini karena berdasarkan data paspor, umurnya masih kurang dari 4 tahun. Tapi mengingat tingkah polahnya dia dan demi kenyamanan bersama, saya putuskan beli 1 tiket sendiri untuk dia.

  1. Penginapan

Karena rombongan kami totalnya ada 14 orang (8 dewasa, 4 anak, 2 balita), jadi tidur di hotel bukanlah suatu pilihan. Lalu diputuskanlah untuk cari penginapan yang bentuknya rumah dan Air bnb lah solusinya. Untuk urusan ini, kakak-kakak saya yang nyari dan kita dapat penginapan di Furuishiba untuk malam pertama dan kedua. Belum apa-apa, saya udah ketakutan duluan karena ownernya udah wanti-wanti kalau kita ga boleh berisik karena apatonya dia di lantai 2 sedangkan penghuni di lantai 1 adalah nenek-nenek galak yang suka marah kalau ada keributan. Silahkan dibayangkan gimana caranya kita ber-14 yang didalamnya banyak bocah dan harus menahan diri supaya ga ribut -_- tapi memang itulah yang terbaik yang bisa kita dapatkan saat itu. Penginapan yang lain untuk tanggal segitu, harganya mulai meroket karena udah masuk masa peak season, waktunya orang hanami-an alias waktunya ngeliatin sakura mekar.

Ps : ini catatan perjalanan kami 5 bulan yang lalu, pengennya nulis detail tentang ini tapi of course sudah banyak yang terlupakan akibat kemampuan mengingat yang terbatas. Catatan harian selama di Jepang insha Allah akan berlanjut di postingan selanjutnya 🙂
Advertisements

Pertanyaan yang sulit (dibaca) 

Sejak jadi anak kelas 1 SD,  edel semakin rajin belajar nulis dan baca.. Thanks to miss jejen & mr dodon.  Karena saya yakin ga mudah untuk pegang kelas rendah yang mana anak2nya masih masa transisi dari TK ke SD.  

Kemarin waktu saya pulang kantor, saya diajak main sekolah2an sama Edel dan ceritanya Edel jadi miss nya.  Saya dikasih kertas ini dan disuruh isi jawabannya semacam dia kalau lagi ulangan.  

Lupakanlah barisan yang masih turun naik,  huruf besar dan kecil yang masih nyampur dan bahkan kata-kata yang masih susah ditebak maksudnya (kaya yang pilihan jawaban b).

Owya,  saya juga seneng Edel kasih pertanyaan ini karena dia sangat care dengan bundanya dan ngerasa prihatin dengan keadaan jari bundanya yang ga sembuh2. Saya juga ngga ngerti kenapa, jari saya kadang sering kerasa gatel didalem dan kalau digaruk semakin gatel sampai akhirnya luka. Udah gitu luka bekas garuknya mengering dan jadi luka baru. Gitu aja terus berulang udah berbulan2. Udah ke dokter dan dikasih obat tapi belum ketemu juga solusi permanennya 😢 ada yang pernah ngalamin juga ga sih?  

Ps : setelah dikonfirmasi,  option yang b itu maksudnya = garuk-garuk sampai merah atau sampai berdarah 😂