Tangan Yang Tak Terlihat

Karena kejadiannya baru sekitar 13 tahun yang lalu, jadi saya masih rada inget ni kejadiannya.. Bulan November 2004 waktu kita lagi nyiapin berkas daftar ulang, disitu ada surat pernyataan sebagai salah satu syaratnya. Isi dari surat pernyataan itu kurang lebih adalah menyatakan bahwa kita itu sehat jasmani rohani, tidak sedang terikat dengan instansi lain dan poin yang menyatakan bahwa kita siap ditempatkan di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia atau negara lain yang ditetapkan pemerintah. Tentunya surat pernyataan itu kita tanda tangan dengan sukacita dong ya, apalagi masih dalam euforia kelulusan.

Lanjut waktu udah mulai pendidikan, diajarin lagu sama senior-senior kesayangan yang liriknya kalau ngga salah mau dimanapun penempatan tugasnya, okee.. gitu-gitu deh…

Terus pas udah lulus gimana? Jujur, saya sendiri sampai sekarang (setelah 10 tahun lulus) selalu kebat kebit dag dig dug ga karuan kalau udah kedengeran gosip udah waktunya SK keluar. Nasib jadi PNS kementerian yang akan selalu dirolling, saya rasa sampai pensiun bakal kaya begini terus. Karena saya sadar diri lah sebagai pegawai yang es-te-de (untuk saat ini) ga mungkin saya minta penempatan ke daerah nomer 1 di Indonesia ini :p Jadi ya mari kencangkan doa saja…

Ngomongin penempatan, dari awal lulus pendidikan saya langsung ditempatin di almamater tercinta untuk jadi pembina (pengasuh), setelah itu penempatan kedua saya adalah kota dimana sampai sekarang saya tinggal. Sebelumnya saya sama sekali ngga punya bayangan bakalan kaya gimana penempatan saya selanjutnya setelah jadi pengasuh. Sampai satu hari di tahun 2009 waktu saya lagi liburan di Bandung, tiba-tiba saya ditelepon untuk wawancara di kantor pusat karena saat itu lagi dicari pegawai perempuan, berjilbab, belum menikah dan nama saya masuk kedalam bursa 😀 . Selama proses wawancara, saya jawab apa adanya bahwa saya sudah ada rencana nikah dalam waktu dekat. Ndilalah saat itu juga yang wawancarain saya langsung nyoret nama saya dari bursa bilang ke pejabat yang berwenang untuk buatin SK pindah ikut calon suami… nah lo!!!!! Antara bersyukur tapi bingung juga sih -_- karena kata beliau, biar gimanapun keluarga adalah nomer 1. Jangan sampai kita tinggal dan hidup terpisah-pisah dengan pasangan. Waktu itu saya cuma manggut-manggut aja dan bilang terima kasih.

Sekarang saya rasain banget kalau kata-kata bapak itu bener. Setelah saya punya suami dan 2 anak, rasanya berat banget kalau suatu hari nanti saya harus hidup terpisah dengan mereka. Meskipun banyak orang juga bilang kalau itu udah jadi resiko saya untuk mempertahankan karir. Antara karir dan keluarga, pasti harus ada yang dikorbankan katanya. Yah…mungkin satu hari nanti dan mudah-mudahan masih sangat lama ketika saya harus pilih salah satu. Bisa aja sih saya pilih untuk menetap dan ga mengejar apapun lagi, tapi kadang masih kebayang baunya got dan dekilnya lumpur yang nempel waktu itu. if you know what I mean. Masa-masa perjuangan yang ngebentuk saya sampai seperti sekarang ini. Dan pastinya terbayang perjuangan mamah saya yang pengen saya sukses, sampai rela jual segala macem demi bisa liat anaknya selesai sekolah dan diwisuda T_T

Walaupun kadang pasti ada rasa bosan, jenuh, pengen keluar dan cari lingkungan baru. Apalagi waktu udah mulai stuck ngga bisa ngerubah lingkungan jadi lebih baik, besar banget keinginan saya untuk ngerasain tempat baru. Bukan untuk kabur… tapi lebih ke mencari pengembangan diri. Karena sebetulnya saya betah banget disini, dekat dengan suami dan anak-anak, dekat dengan lingkungan saya terbiasa tinggal. Tapi saya sadar, saya ga akan mengalami kemajuan apapun kalau saya terus berada di comfort zone. Walaupun untuk sekarang saya masih terlalu cemen untuk melangkah ninggalin semua ini.

Saya yakin, Allah akan selalu mendengar doa-doa yang dipanjatkan dan akan mengabulkannya satu persatu pada waktunya. Karena apa-apa yang ditetapkan Allah, saya percaya adalah yang terbaik (walaupun kalau ga sreg di hati, pasti pada awalnya saya susah terima, seperti biasa) jadi… tulisan ini pun sebagai pengingat kalau sampai pada satu hari nanti Allah berkata saya harus melangkah, maka saya bisa melangkah dengan pasti!!! Karena dibalik garis tangan, buah tangan, dan tanda tangan, saya yakin campur tangan Tuhan lah yang akan menentukan segalanya 🙂

 

#september 2017#

#azita yang selalu deg-degan tiap ada SK#

#ditulis 3 hari setelah ada SK rombongan keluar#

Advertisements

Transformasi Akademi Imigrasi

Akademi Imigrasi yang biasa disingkat jadi AIM, adalah akademi kedinasan di bawah Kementerian Hukum dan HAM RI. AIM ini adalah tempat saya sekolah 12 tahun yang lalu (what!!!) ga berasa ya..udah tua aja brati sayanya 😦  dan gara-gara AIM ini jugalah saya akhirnya meninggalkan kota bandung tercinta dan mulai menginjakkan kaki sendirian di ibukota Jakarta.

Apa sih yang menarik dari AIM? Hmmm…. Kalau dulu saya ditanya, jujur saya juga ngga tau apa yang menarik karena pas saya daftar juga saya ngga tau apa itu AIM, gimana itu tinggal di asrama, apa aja yang bakal saya pelajarin, dan lain-lain… pengetahuan saya tentang ini NOL besar. Karena waktu itu saya daftar murni karena keinginan mama dan saya cuma ingin ngebuat mama seneng aja. Ya bayangin aja..saat itu saya lagi seneng-senengnya kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Jepang UPI. Udah semester 3 dengan nilai IP tiap semesternya ngga pernah dibawah 3,7 dan saat itu saya sebagai salah satu penerima beasiswa berupa uang tunai per bulan yang jumlahnya lumayan besar saat itu (ok,,,berhenti pamernya!!) haha… tapi demi memenuhi keinginan mama, saya rela bolos kuliah hampir di setiap mata kuliah Kanji- nya ibu Rena yang udah terkenal strict  nya masalah absen. Jadi kalau saya ngga lulus AIM, udah pasrah aja lah harus ngulang matkul ini di semester lain. Tapi qadarullah, saya lulus.. Alhamdulillah.

Status taruna AIM waktu dulu adalah CPNS, jadi selama masih taruna, kami dapat hak-hak sebagai CPNS. Setelah lulus dari AIM, kami berhak menyandang gelar Diploma dengan titel Amd.Im (Ahli Madya Imigrasi) dan sebutan Pejabat Imigrasi (PI). Alumni ini rata-rata langsug melanjutkan kuliah untuk dapat gelar sarjananya. Tapi seiring dengan perkembangan zaman, dan setelah diberlakukannya Undang-Undang Keimigrasian yang baru Nomor 6 Tahun 2011 yang didalamnya juga mengatur tentang Pejabat Imigrasi, status AIM dirasa tidak relevan lagi. Saya sebagai alumni yang pernah merasakan juga sebagai Pembina AIM (tepat setelah lulus) bisa merasakan betul perjuangan untuk menjalankan suatu akademi. Untuk itu saya salut kepada semua jajaran yang ada di AIM baik Pembina, kaur, kasubag sampai ibu Direkturnya dan juga jajaran BPSDM yang telah berhasil meningkatkan status AIM menjadi Politeknik Keimigrasian (Poltekim) per tahun ini. Jadi sekarang ngga ada lagi AIM, yang ada adalah Poltekim. Alhamdulillah akhirnya bisa juga jadi Perguruan Tinggi Kedinasan ya 🙂 saya tau perjuangannya ngga mudah dan bahkan setau saya, hal ini berkali-kali dijadikan bahan untuk penulisan Karya Tulis Akhir (KTA) para taruna.

Belum lama ini juga sudah dilaksanakan proses penerimaan calon taruna untuk angkatan 19, yang menurut infonya Poltekim ini terbagi menjadi beberapa jurusan dengan masa pendidikan 4 tahun dan setelah lulus dari Poltekim, para taruna baru akan mendapatkan status CPNS nya. Kemungkinan lain yang saya dengar, angkatan baru ini ngga akan tinggal di asrama karena asrama yang ada bakal dirombak karena kapasitas yang ada kurang besar, CMIIW please.. Apapun itu, saya berharap semoga adik-adik di Poltekim dan juga teman-teman Diksuskim yang masih menjalani pendidikan dapat menyelesaikan pendidikan dengan sebaik-baiknya sampai dengan selesai dan segera bergabung kedalam jajaran Imigrasi Indonesia.

Jika merasa lelah dalam menjalaninya, mari ingat kembali untuk apa dan untuk siapa kita memulainya..

Owya, kalau ada yang mau kepo tentang Poltekim ini, silahkan dibuka-buka webnya atau akun instagramnya yang adminnya saat ini aktif mengupdate berita.

IMGP4088

bersama teman seangkatan… teman saya yang ditengah ini sekarang tugasnya di KDEI Taipei, konon kabarnya masih mencari pasangan, High Quality Jomblo ni :p

 

Salam super!!!

dari alumni yang masih deg-degan terus tiap kali denger ada SK mutasi mau keluar >_<

 

Kalau mau panen mangga, jangan tanam pete!

Saya walaupun suka dengan kegiatan alam atau kerja lapangan tapi saya juga ngga menolak kalau disuruh kerja dibelakang meja (sepanjang ada wifi) :p

Kalau di kantor-kantor pelayanan kan yang tugasnya di belakang meja udah pasti sibuk yah..nah dulu saya pernah kerja dibelakang meja tapi kerjanya ngga melulu musti ketemu orang di meja. Jadi saya sering ngabisin waktu internetan mulai dari yang penting banget sampai yang ngga penting banget. Malah dulu waktu tempat kerja saya belum punya website, saya buatin blognya karena saking banyaknya yang nelpon atau nanya-nanya tentang akademi tempat saya kerja, jadi saya sering buat tulisan tentang kegiatan disana.  Sekarang sih udah ada website kecenya dan saya baru keinget untuk deaktif blognya (soon setelah saya inget passwordnya). Saya juga sering blogwalking setelah masukin keyword tempat saya kerja, kadang banyak aja yang nanya tentang akademi imigrasi ditempat lain dan saat itu mereka belum tau musti nanya kemana, jadi sayapun bantu jawab di blog orang tersebut.

Dan setelah hampir 8 tahun berlalu, internet ngga melupakan sejarah loh.. mereka kekal abadi nyimpen informasi dan saya masih sering dapat pertanyaan-pertanyaan lewat email yang tentunya saya jawab sebisa saya dan langsung menyarankan mereka untuk menghubungi nomor xxxxxx untuk keterangan lebih lanjut karena saat ini saya sudah tidak tugas di akademi lagi.

Surprisingly 3 tahun lalu waktu sepupu dari suami lagi nyiapin berkas untuk pendaftaran ke akademi serupa yang sekarang udah jadi poltek, saya liat diantara tumpukan berkasnya ada contoh surat lamaran kerja yang kayanya kok familiar banget. Setelah saya teliti lagi, ternyata itu contoh surat yang pernah saya post 7 tahun lalu di blog. Ya emang sih biasa aja mustinya.. Cuma karena saya ngerasain sendiri impact-nya, jadi saya semakin melek bahwa apapun yang kita lakukan sekarang pasti akan berbalik lagi satu hari nanti entah kapan pastinya. Entah untuk kita sendiri atau untuk keluarga kita.

Jadi, hari gini masih mau zalim?

motivasi-dakwah-2-15-728

pic from here

 

 

for the first time

Gara-gara abis nyari foto yang sama mama kemarin buat diupload dalam upaya dapet voucher hotel gratisan, saya kok jadi keingetan kenangan-kenangan jaman dulu waktu masih kecil ya. Jadinya saya pengen nulis deh demi menggali memori itu. Karena tulisan ini bakal memuat kenangan saya dan mama dari saya kecil dulu, jadi sepertinya akan panjang ceritanya.

Ulang Tahun

Mungkin bagi sebagian orang ulang tahun itu bukan sesuatu yang harus dirayakan karena sebetulnya umur kita juga udah berkurang. Tapi coba deh ngomong gitu sama anak kecil..hehe.. mama dari dulu selalu ngebuat hari ulang tahun jadi istimewa walaupun itu hanya sekedar potong kue aja dan bukan pesta ngundang temen-temen. Karena itu juga mungkin saya jadi menerapkan yang sama ke keluarga saya. Karena saya ingin ada yang bisa dikenang di setiap pergantian tahun mereka seperti saya hari ini mengenang ulang tahun saya jaman dulu. Waktu TK, acaranya disekolah, saya sengaja ga masuk dan dateng pas temen-temen udah selesai belajar dan ibu guru udah selesai ngeset kelas untuk acara saya..hehe.. Waktu masih SMP, mama ngundang temen-temen pramuka saya pas saya ulang tahun ke-14. Waktu SMA, pernah waktu itu mama bikin surprise dateng ke sekolah bawain nasi kuning untuk temen-temen saya. Seneng banget rasanya karena temen-temen jadi tau saya ulang tahun dan pada doain saya. Pernah juga beliin beng-beng beberapa kotak untuk dibagiin ke temen sekelas. Ulang tahun terakhir yang dirayain itu waktu saya umur 17 tahun dan udah mau lulus SMA.

Waktu saya udah kerja, saya pernah bikin surprise birthday party untuk mama. Saya di Jakarta saat itu arrange semua, ngundang sodara-sodara untuk dateng kerumah pas mama ulang tahun dan saya baru nyampe rumah setelah semuanya dateng. Surprissseee karena mama taunya saya ga pulang ke bandung. Dan tante saya sirik dong pengen dibuatin juga kejutan ulang tahun sama anaknya. Ah…saya emang suka kejutan yang menyenangkan sih dan ini sepertinya genetis 🙂

2015-12-22

kumpulan foto yang berhasil saya bawa ke banjarmasin, ulang tahun ke-1,2,4,5,8,14.. btw, di ulang tahun pertama masih ada papa ituuuu 🙂

Belajar mandiri dan tanggung jawab

Dari saya kecil mama selalu pergi kerja setiap hari senin sampai sabtu. Dulu mama kerja dibagian kemahasiswaan jadi ga bisa dateng terlambat atau pulang cepat. Pernah waktu saya masih SD dan mau berangkat sekolah, saya pengen ikut mama aja naik mobil daripada ikut jemputan. Karena pergi yang terburu-buru, saya baru sadar tas sekolah saya ketinggalan setelah hampir sampai di sekolah. Tentu aja mama ga mau ikutan pusing mikirin ini, saya dibiarin nyelesain masalah sendiri dan ngomong ke ibu guru sendiri. Saking sibuknya mama, seinget saya hampir ga pernah ngajarin saya belajar. Jadi saya belajar sama kakak-kakak saya atau ga belajar sama sekali walaupun setelahnya kalau dapet nilai jelek ya mama pasti marah. Saya juga pernah digeret ke kamar mandi dan disiram air dingin malam-malam pakai baju lengkap karena mama kesel sama saya yang udah bohong waktu saya kehilangan buku pelajaran PSPB. Dan pas besoknya saya demam, keliatan banget mama khawatir dan mama minta maaf. Saya sih ga masalah karena emang saya salah walaupun emang nangis kejer juga sih saat itu.

Pernah satu sore saya nongkrong diatas tembok pagar rumah saya karena saya takut di dalam rumah sendirian padahal udah magrib dan kakak-kakak saya belum pada pulang, gitu juga mama. Tapi ini ngga ngebuat mama kasian sama saya, padahal waktu ngeliat mobil mama dateng dari ujung gang, saya udah langsung loncat kegirangan bukain pagar. Oh ya, meskipun saya didalem rumahpun, saya bisa tau kalau mobil mamah udah sampai di ujung gang karena suara gasnya mobil carry yang khas. Dulu mama selalu pakai mobil tipe carry gini karena mobilnya bisa dipakai untuk angkut-angkut barang catering.

Sepanjang SMP, saya sering banget bikin mama tambah repot karena saya ikut ekskul PRAMUKA dan seneng camping. Karena setiap kali camping seringnya mama ngebolehin asalkan rame-rame dan jelas tapi mama tetep ngintilin malamnya..hahahaha…jadi ya gitu deh, ke lembang, Batu Kuda, mama tetep dateng malemnya untuk ngecek kecuali pas saya camping yang beneran naik gunung dan ga bisa disusul, kalau yang ini izinnya mati-matian. Overall, saya berterima kasih juga karena udah didukung kegiatan PRAMUKA ini karena saya sadar secara ga langsung ini ngebentuk pribadi saya.

2015-12-221.jpg.jpg

waktu masih kinyis-kinyis

Karena kesibukan mama juga, waktu mau masuk SMA saya harus daftar sendiri dan ga dianter-anter untuk urusan apapun itu selagi masih ada angkot.

Urusan sama kakak-kakak saya, waktu masih kecil kita bertiga sering banget ribut. Seringnya sih saya dengan kakak pertama atau saya dengan kakak kedua atau kakak kedua dengan kakak pertama atau kakak kedua dengan saya. Jarang sih kita bertiga ribut bareng tapi bukan berarti salah satu dari kita jadi penengah juga kalau salah duanya lagi berantem. Terus mama gimana? Ga banyak omong…paling nyorongin pisau :p

iya mama saya mah gitu banget, ya kebayanglah ya… sendirian ngurus 3 anak, kerja dari pagi pulang sore badan cape nyampe rumah ga ada tempat curhat, anak-anak malah ribut berantem ya pasti emosi jiwa juga *pukpukmama

Perjuangan

Mama saya ini pejuang sejati. Ga usahlah ya diceritain lagi karena di beberapa post udah sering saya mention tentang ini. Yang jelas mama baru mulai kerja setelah papa meninggal. Untuk itulah saya mempertahankan prinsip sebisa mungkin wanita itu harus kerja mau di kantor kek atau dirumah, minimal ada keahlian yang bisa dipakai karena kita ga pernah tau akan ada kejadian apa di depan nanti. Kalau mama saat itu ditinggal papa, teteh saya umur 7 tahun, kakak saya 4 tahun dan saya 14 bulan. I can’t imagine if I were in her position 😦

Sepanjang SMA ga ada kejadian berarti kecuali saya yang berusaha mati-matian buat lulus karena saya masuk kelas IPA sedangkan daya jangkau saya rendah. Oke…saya lulus dengan nilai UAN matematika 4 kalau ga salah. Lebih sedikit dari nilai minimal untuk lulus. Waktu mulai kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Jepang FPBS UPI, barulah mama bisa liat kalau ternyata bakat saya emang di bahasa dan bukan hitung-hitungan. Saya bisa tahan ngapalin dan nulis ulang kanji semaleman tapi diam ga berkutik kalau disuruh liat rumus hitungan. Disini juga saya mulai dapet beasiswa walaupun ga sampai selesai. Sepanjang 3 semester di UPI, ga pernah IP saya dibawah 3,5 dan sekali nyaris 4. Bukan mau sombong, tapi dijadiin pelajaran aja bahwa jangan pernah memaksakan sesuatu yang bukan keinginan dan kemampuan seseorang 🙂

Di masa-masa ini saya tau mama sangat berharap kalau ada salah satu anaknya yang jadi PNS supaya bisa nerusin jejak papa. Mungkin karena liat uang pensiunannya yang bisa jadi jaminan kali ya. Entahlah kalau nanti kebijakannya diganti sama presiden. Tapi saat itu jujur aja pikiran saya juga ga jauh-jauh dari ya insya Allah kalau udah lulus bisa jadi PNS dengan jadi guru mungkin? Walaupun saya tau saya ga bakat ngajarin orang karena saya bukan orang dengan tipe sabar. Mungkin karena ini Allah jawab doa saya dengan meluluskan saya di Akademi Imigrasi. Walaupun stress di bulan-bulan awal tinggi banget sampai nyaris menyerah, saya selalu balik lagi ke niat awal pengen jadi PNS seperti harapan mama. Jadi waktu awal masuk ditanya sama Pembina dan senior apa harapan kamu dan kenapa masuk AIM? Rata-rata teman saya jawab mau jadi PEJIM alias pejabat imigrasi. Saya boro-boro tau PEJIM, tau AIM kaya gimana aja baru pas hari pertama saya masuk setelah lulus. Jadi saya cuma jawab mau jadi PNS. Lalu didamprat, NGAPAIN CAPE-CAPE MASUK AIM KALAU CUMA SEKEDAR MAU JADI PE EN EESSSSSSS!!!!!! Yakaliiii..meneketehe, yang saya tau saya cuma pengen bahagiain mama. Tapi jawabnya dalam hati aja sih.

Perjuangan belum usai bung… waktu masih jaman catar dan mau penutupan di Pelabuhan Ratu, saya terpilih jadi salah 1 dari 10 penembak yang bakal pentas di acara penutupan. Cuma nembak balon doang sih untuk ngebuka banner ucapan, pake senapan laras panjang AK 47. Demi eksistensi dan kebanggaan diri dong ya…saya sembunyi-sembunyi ngehubungin mama lewat salah satu pelatih ngabarin tentang ini. And gues what!!!!! Mama saya dateng ke pelabuhan ratu buat liat saya nembak balon…hahahahaha… dan saya baru tau setelahnya kalau saat itu mama saya keabisan uang karena mau beliin saya logistic disana dan akhirnya beliau terpaksa ke kota untuk jual gelang emas yang saat itu beliau pakai. Hiks…sedih banget kalau inget ini. Betapa mama ngebelain banget dan ngelakuin apapun buat saya. Gitu juga waktu saya lulus ikut Paradasar, terjun payung yang latihannya 1 bulan di Bandung, Lanud Sulaeman. Seminggu terakhir waktunya terjun, 7 hari berturut-turut mama dateng nungguin saya di bawah landasan setelah sebelumnya ngeliatin saya loncat dari atas pesawat.

paradasar.jpg

dua foto diatas waktu lagi latihan nembak, saya lebih suka AK 47 daripada revolver btw… foto yang dibawah itu waktu terjun payung

Oh ya, mama ga bisa liat orang kelaperan.. waktu kita masih di brimob mama pernah sembunyi-sembunyi datengin saya dan saya yang ga tau apa-apa tiba-tiba ditarik dari barisan sama pelatihnya dan dimasukin ke mobil. Didalem mobil ternyata ada mama dan om saya. Kita udah ga ketemu sebulan lebih kayanya saat itu. Dan pertama kali ngeliat saya, bukannya meluk atau nanya kabar tapi langsung jejelin cheese roll Kartika Sari ke mulut saya. Nyam…nyam…nyam…nyam…

3 tahun di asrama, cita-cita saya cuma 1. Pengen bikin mama bahagia dan bangga sama saya. Impian saya cuma pengen lulus sebagai salah satu lulusan terbaik supaya nama mama saya bisa disebut dilapangan upacara waktu wisuda dan mama bisa nerima bouquet bunga dari menteri saat itu. Terus gimana hasilnya? Alhamdulillah tercapai, walaupun ga diucapkan saya tau beliau bangga dan bahagia walau papanasan di lapangan ya mah :p

Desktop.jpg

saya & mama

Ketulahan

Apa ya bahasa Indonesia ketulahan ini….semacam kemakan omongan mungkin ya. Duluuu banget waktu kakak saya belum punya anak, mama pernah ngomongin bude saya yang dari magelang tiap kali ke bandung pasti beli banyak oleh-oleh untuk cucunya di magelang. Lalu katanya mama mah ga mau dijajah sama cucu. Lucunya….lihatlah sekarang. Apa yang dibeli kalau mama ke pasar? Segala baju, sepatu dan mainan untuk cucunya..hehehehehe…. di lemari baju edel aja semua roknya bikinan neneknya 😀

Berempati

Setelah saya punya anak, saya jadi lebih ngerti perasaan mama saya. Dan ya kaya sekarang ini jadinya sering nginget-nginget jaman kecil dan kenapa mama gitu, mama gini, sekarang saya tau jawabannya karena saya ngerasain sendiri.

Sampai sekarang, apapun yang saya rasain, apapun yang saya laluin, apapun keputusan yang saya ambil saya selalu cerita sama mama. Minta doain sama mama. Walaupun saya tau setelah saya cerita, ga jarang mama kepikiran masalah itu, saya cuma pengen didoain mama. Tapi sejak mama bermasalah sama jantungnya, saya jadi pilah pilih cerita karena takut ngeganggu kondisi kesehatan mama walaupun ga jarang mama udah ngerasain ada sesuatu sebelum saya sempet cerita. Insting seorang ibu?

Takut kehilangan

Takut kehilangan itu wajar karena kita manusia biasa. Ada masa mama pernah kumat sakit jantungnya waktu lagi nengokin kesini. Malam itu hampir tengah malam, saya didalam ambulance yang sirinenya meraung-raung dan mama terbaring di belakang dijagain suster ngebut kerumah sakit di kota sebelah. Alhamdulillah semuanya udah lewat walaupun gara-gara itu sampai sekarang saya masih trauma denger suara sirine ambulance.

Harapan

Harapan saya ga muluk-muluk, saya cuma pengen mama selalu sehat, selalu bahagia, selalu merasa tercukupi, selalu senang, selalu bisa ngelewatin hari-hari sama orang tersayang, selalu ada rezekinya untuk bisa jalan-jalan kemanapun mama mau karena dulu mama habisin waktu buat ngurus kita. Saat ini mama tinggalnya nomaden, saya ga tega sebetulnya kalau mama di Bandung karena ga ada temennya. Adakah yang bisa mindahin saya tugas ke Bandung? *eh curcol*

Akhirnya…….setelah cerita panjang-panjang….sebetulnya saya cuma mau nulis ini aja daritadi :p

Mah, aku tau ini ga penting diucapin, tapi aku ga pernah ngucapin kayanya sepanjang hidup dan seumur hidup jarang banget aku bilang kalau aku sayang mama! Ga kenapa-kenapa sih…..aku malu aja….hehehe…karena dari aku kecil mama juga ga pernah bilang mama sayang aku. Tapi aku tau itu bukan masalah karena sayang dan cinta bukan untuk diucapkan tapi untuk dirasakan 🙂

We love You, nenek…

1450773683303

nenek di tengah anak-mantu-cucu-besan yang lagi ngumpul lengkap dateng dari Jepang, Banjarmasin, Jambi, Jakarta

Selamat Hari Lahir, Garuda

Rasanya seperti baru kemarin saya menulis surat ini.. ternyata itu adalah setahun yang lalu ya pak. Walaupun mulai tahun ini bapak tidak bisa baca surat yang saya buat lagi, tapi mohon izinkan saya untuk tetap dapat mengenang bapak.

Karena walaupun raga bapak sudah tidak ada di dunia, tapi semangat bapak akan terus terbawa bagi kami yang ditinggalkan.

Selamat hari lahir, Garuda

image

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. -Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka”

Demi (si)apa?

Waktu saya lulus SMA tahun 2003, saya sama sekali ga punya bayangan mau kuliah jurusan apa. Kalau pilihan universitas sih udah pasti diantara 3 aja karena universitas negeri di bandung kan cuma itu-itu aja ya. Diluar dari itu? Yudadababay ajaaa…mama ga akan kasih izin dan ga akan biayain juga secara kuliah di universitas swasta jaman dulu aja udah mahal banget buat kantong kita. Akhirnya setelah menimbang masak-masak dan sadar akan kemampuan diri, waktu SPMB saya ambil pilihan IPC dengan 2 pilihan teratas jurusan IPA (yang saya sangat ragu akan kemampuan saya sendiri tapi tetep nekat dicoba demi peruntungan potongan SPP) dan pilihan terakhir adalah jurusan pendidikan bahasa jepang di UPI Bandung. Memang Allah tau yang terbaik ya dan saya gugur di 2 pilihan teratas, tapi Alhamdulillah lulus di pilihan terakhir. Legaaaa karena akhirnya bisa juga ngerasain bangku kuliah. Itupun alhamdulilah biaya SPP nya dibantuin sama temennya almarhum papa yang sekarang jadi rektor di ITB. Baik banget deh beliau. Dan sebagai bakti saya terhadap mama juga beliau2 yang banyak membantu keluarga kami, saya buktikan di hasil kuliah yang Alhamdulillah IPK nya ga pernah dibawah 3,5 selama 3 semester. Dan karena itu juga saya termasuk kedalam 10 orang yang dapet bantuan beasiswa dari salah satu perusahaan Jepang. Lumayan banget lah itu 250rebu sebulan bisa dipake jajan cilok sambil nungguin angkot di depan kampus 😀
Trus kenapa cuma 3 semester?
Disinilah cerita dimulai….
Waktu tahun 2005, mama saya dikasih tau kalau AIM ada buka pendaftaran calon taruna. Fyi, saya emang udah tau kalau mama saya ini ngebet banget pengen ada anaknya yang berstatus PNS. Mungkin beliau ngerasa kali ya anak-anaknya ga ada yang bakat wirausaha.. jadi, tawaran itu disampaikan ke saya dengan harapan kalau saya bisa lulus jadi calon taruna AIM trus bisa jadi PNS yang berguna bagi nusa dan bangsa. At least biaya pendidikannya ditanggung negara dan tinggal di asrama (jadi bisa ngurangin biaya makan dirumah :D)

Singkat cerita, untuk pertama kalinya saya bolak balik bandung-jakarta sendirian demi ikut ujian demi ujian seleksi penerimaan calon taruna AIM 2005. Waktu itu tol cipularang belum ada, jadi saya harus lewat puncak atau naik kereta ke Gambir. Pertama kalinya juga tuh nyobain bus transjakarta dan metromini. Tampilan kucel gotong ransel turun naik angkot. Mungkin yang liat saya di jalan ngebatin ada anak ilang ni.. hahahaha.. miris sendiri kalau inget jaman perjuangan dulu. Pernah juga saya istirahat siang di mesjid sambil buka bekal makan yang dibawa dari bandung. Pol banget kan persiapannya 😀

Sampai akhirnya pengumuman kelulusan dan ternyata nama saya ada di daftar salah satu dari 65 calon taruna Akademi Imigrasi angkatan 9. Sujud syukur Alhamdulillah saya ga usah ikut ujian susulan di kampus karena keseringan ditinggal bandung-jakarta. Mama saya? Potong kambing karena udah nazar 🙂

Sempet kaget awalnya dan butuh waktu untuk penyesuaian hidup di asrama, tinggal bareng dengan orang-orang baru mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. 3 tahun jungkir balik, kaki di kepala kepala di kaki  pakaian basah kering di badan…hehehe… tapi saya coba nikmatin semuanya dan udah mulai nemu tujuan saya disana karena ngeliat senior-senior diwisuda dan sukses di tempat kerja. Yang paling penting, saat itu saya cuma pengen pas lulus dari AIM ada di peringkat 3 besar supaya nama mama saya bisa disebut waktu saya wisuda dan mama diundang ketengah lapangan untuk nerima ucapan selamat dan bouquet bunga dari menteri saat itu. Just it…cetek banget yah.. tapi itu cukup buat jadi cambuk saya untuk bertahan ditengah kerasnya kehidupan belajar bener-bener dan do the best di setiap kesempatan. Alhamdulillah impian saya tercapai dan walaupun ga diucapkan, saya tau mama sedikit bangga sama saya..hahahahahaha… ga ada lagi deh yang saya pengenin di dunia ini selain selalu bisa bikin mama saya selalu bangga dan bahagia. Karena saya tau semua perjuangan beliau besarin 3 anak sendirian adalah bukan perkara mudah.

Setelah lulus, saya baru bersyukur kalau dulu mama sempet rada maksa saya untuk ikut tes AIM ini. Disinilah pribadi saya berubah, mindset saya lebih terbuka dan pastinya lebih mandiri plus ketemu jodoh pula.. Allah maha baik..

Lalu dunia kerjaan gimana? Yah karena dari awal udah teken kontrak untuk ditempatin dimana aja, jadi ya siap-siap aja…yang penting selalu minta doa mama dan suami supaya selalu dilindungi dan dikasih kelancaran di setiap pekerjaan. Walaupun resikonya sekarang harus jauh dari keluarga, Alhamdulillah masih dikasih kesempatan untuk sama-sama dengan suami dan anak-anak. Selanjutnya? Biar Allah yang menentukan 🙂

Daaan buat temen-temen yang baru lulus SMA atau lagi cari kerjaan dan berminat untuk jadi taruna yang nantinya akan berstatus PNS, Kemenkumham RI tahun ini buka pendaftaran untuk calon taruna AIM dan AKIP loh. Segala persyaratan dan tanggal pelaksanaan bisa dilihat di websitenya kemenkumham.

So.. Tetap semangat dan temukan alasanmu sendiri ya,, demi siapa dan demi apa kita harus berjuang?

image

[Bali Trip] A Decade Unite Us

Bulan lalu kami sekeluarga akhirnya pergi ke Bali setelah ngerencanain melulu tapi ga jadi-jadi selama bertahun-tahun. Walaupun sebenernya trip ini rada-rada maksa juga sih karena tadinya cuma saya sendiri yang mau berangkat dengan salah satu anak tapi akhirnya malah jadi berangkat full team plus neneknya juga sekalian yang emang lagi berkunjung ke banjarmasin sekalian diangkut.

Kenapa harus Bali sih? Well..trip ke Bali ini sebetulnya selain karena hasrat terpendam suami yang pengen napak tilas juga karena saya mau ikut kangen-kangenan di acara peringatan 10 tahun kebersamaan AIM 9, kangen-kangenan dengan temen-temen seperjuangan yang udah lama banget ga pernah ketemu karena dari sejak kelulusan kita tahun  2007 belum pernah ada reuni atau kumpul-kumpul yang resmi dibikinin acaranya jadi dibentuklah panitia untuk peringatan 1 dekade ini. So… tanggal 16 januari kemarin akhirnya terbanglah kami sekeluarga ke Bali.

Gimana perasaannya ketemu temen-temen lama? Seneng banget lah.. yang dulunya masih pada kurus-kurus sekarang rata-rata udah pada gendut, udah pada punya pasangan, udah pada punya anak, tapi sifatnya masih pada sama semua. Yang ngocol tambah ngocol, yang jadi objek bullying tetep itu-itu juga. Temen-temen yang penempatan di Bali jadi panitia dan host utama untuk acara ini.. salut banget udah sukses arrange acaranya. Ngumpulin temen-temen yang udah kesebar kemana-mana mulai dari barat sampai timur, nyiapin dan nyediain akomodasi plus sabar banget ngurusin perintilan acara.

Tanggal 17 hari Sabtu, kita diajak jalan-jalan ke Danau Beratan Bedugul sama ke pantai Pandawa yang katanya termasuk pantai yang baru dibuka di Bali. Akomodasinya pakai 2 bis pariwisata besar dimana banyak anak bayi dan balita juga ikut di rombongan kita (termasuk edel dan arjuna)..seru sih tapi mungkin jadi bahan pertimbangan untuk acara reuni selanjutnya bisa dibikin di satu tempat aja biar ga cape dijalan..hehehe..

Anyway,,semoga kebersamaan kita masih dikasih kesempatan berpuluh tahun lagi lamanya sama Allah SWT dan selalu dikasih keberkahan dalam setiap hubungannya. Semoga selalu rukun, awet, selalu bisa saling tolong menolong dan saling mengingatkan dalam kebaikan..

Sukses untuk kita semua ya 🙂

Bravo AIM 9

10420284_10205511216761139_2195906973715972669_n

the girls

10391407_10205510967114898_5102829511180838955_n

Danau Beratan Bedugul

1545888_10205510966994895_136037666055324836_n

AIM 9 family