Mengunjungimu lagi pah ^^

“Assalamualaikum..”

Sepi…hening ngga ada jawaban dan cuma kedengeran suara tonggeret waktu aku masuk kerumah papa. Khas sekali…

Tapi ya untungnya ngga ada yang nyaut juga sih karena kalau ada pasti aku bakalan merinding karena saat itu ngga ada siapa2 didalam.

Hai papa,
Setelah sekian lama ngga berkunjung, akhirnya aku punya kesempatan untuk dateng lagi kerumah papa, nengokin papa cuma untuk sekedar say hello, bersihin sedikit dedaunan yang rontok kebawa angin dan masuk ke halaman rumah papa.

Tahun ini ngga ada cerita istimewa tentang aku atau yang lain. Tapi aku punya cerita baru yang aku dapet dari uwa uun waktu nungguin mama di rumah sakit. Uwa cerita waktu aku kecil katanya aku paling suka minta dipangku sama papa tapi saat itu papa udah sakit2an dan papa bilang ngga kuat pangku aku… Sedih banget aku! Bukan sedih karena papa ga bisa pangku aku, tapi sedih ngebayangin sakit yang pasti papa rasain.

Setelah selesai aku main kerumah papa, aku dateng ke rumah papa waktu kecil, rumah yang biasanya aku datengin tiap lebaran, rumah yang sekarang jadi tambah ramai karena uwa2 bikin rumah juga disana. Pengeeen banget kapan2 ikut tidur lagi disana, mengenang masa kecil yang tiap lebaran tidur berderet2 kaya ikan asin lagi dijemur.

Aku ketemu juga sama uwa Tati Kuswati Anggawisastra dan abah, yang kalau dari cerita mamah setelah papa pergi dulu aku sempet dititipin sama uwa tati ini karena aku rewel banget dan mamah pusing jadinya.. Ya maklumlah ya pah, mungkin dulu aku bingung dengan apa yang terjadi jadi bisanya cuma nyari perhatian aja

Trus ada uwa Djodjo Sutardjo yang dulu sering banget ngajakin aku dan keponakan yang lain jalan2 kalau abis libur lebaran, ya ke taman safari, ke pangandaran, kemana2 deh… Uwa ini juga cerita tentang apih oma anggawisastra, no wonder lah ya pah kalau anak cucunya apih oma banyak yang concern dengan dunia pendidikan, ngajar dan tulis menulis. Karena kami cucunya apih oma, and yes i’m proud to be anggawisastra-ers. Uwa djodjo betul seharusnya ada yang mulai menulis tentang Oma Anggawisastra ini karena sejarah akan hilang kalau tidak ditulis atau diceritakan turun temurun. Sayang aku tinggal jauh dari Majalaya jadi ga bisa leluasa cari bahan dan narasumber (ini bukan kode minta pindah mutasi ke bandung kok ya Allah, jangan catat dulu ya)

Kemarin aku juga dibikinin sambel kampung sama bi Etty Anggawisastra, ini udah 3 hari aku makan ulen dicocol pake sambel terasinya.. Rasanya enak pah, sama enaknya kaya makan sampe puas di sushi tei trus dibayarin.

Kemarin juga aku ngga lupa untuk foto2 sama semuanya pah karena aku pengen punya kenang2an sama semuanya. Walaupun uwa ngkus, mang Dian S Anggawisastra, abah harus aku paksa2 buat foto 󾌴 katanya, “euleuh meni popotoan sagala” ya biar aja ya pah, karena aku ngerasain foto itu penting untuk membingkai kenangan. Sama seperti aku mengenang papa lewat foto, karena semua saudara papa udah jadi orang tua aku sejak papa pergi 29 tahun yang lalu.

Terima kasih zita haturkan untuk semua uwa, emang, bibi yang udah anggap zita jadi anak sendiri, semoga semuanya selalu dikasih kesehatan, rezeki yang selalu mengalir dan keberkahan dalam hidupnya ya.

Dan tentu aja, aku juga ga lupa foto sama rumah papa. Aku tinggalin bunga sedap malam kesukaan papa, semoga pas aku udah sampai lagi di banjarmasin, bunganya udah mekar dan wanginya bertahan untuk mengikat aku sama papa sampai aku bisa dateng lagi

Dan di hari ulang tahun papa ini, aku berharap teman2 dan saudara2 semua berkenan melambungkan doa untuk papa semoga diampuni segala dosa, dimaafkan segala kesalahan, diterima segala amal kebaikan dan dimasukan kedalam golongan ahli surga.. Aamiin…

Sampai jumpa lagi di kesempatan selanjutnya ya pah dan terima kasih untuk sudah menjadi papaku… Everything never be the same without you as my father ☺️

Dari,
Anak bungsu yang (selalu) jadi gadis kecilmu

In Memoriam,
Ir. Han Ruhana Anggawisastra, MBA
19.05.1954 – 26.07.1987

Advertisements

Dongeng Walet

Hai teman,

Hari ini saya mau berbagi 1 cerita, salah satu dongeng yang termasuk didalam dongeng dunia tepatnya yang berjudul Pangeran Bahagia (Irlandia).

Cerita ini tentang persahabatan seekor walet dengan seorang (patung) pangeran. Pangeran ini semasa hidupnya selalu bahagia tinggal di istana dan tidak pernah kekurangan suatu apapun, sampai akhirnya pangeran meninggal dan dibuatkan patung dirinya yang terbuat dari emas, bagian matanya terbuat dari batu permata dan ujung tongkatnya memiliki batu rubi yang sangat indah.

Ketika menjadi patung itulah pangeran baru menyadari kalau ternyata banyak rakyatnya yang hidup dalam kesusahan. Dan saat walet yang kelelahan ketika terbang bermigrasi beristirahat di kaki patung sang pangeran, sang walet menyadari kalau patung pangeran menangis. Pangeran bercerita kalau dia sedih melihat rakyatnya kesulitan. Sebetulnya sang walet hanya mau beristirahat sebentar dan akan menyusul kembali rombongannya. Namun karena walet mau membantu pangeran, maka diutuslah sang walet untuk melucuti satu persatu bagian berharga dari tubuh patung pangeran untuk diberikan kepada rakyatnya yang membutuhkan mulai dari batu permata, rubi di tongkat dan lapisan emas di tubuh hingga akhirnya hanya tersisa logam kusam ditubuhnya dan walet meninggal kedinginan dibawah patung pangeran. Seluruh tubuh pangeran akhirnya dihancurkan karena akan dibangun patung yang baru. Namun ada satu bagian pangeran yang tidak dapat dihancurkan yaitu hatinya. Dan akhirnya Tuhan memerintahkan para malaikatnya untuk mengambil hati sang pangeran dan jasad burung walet karena akan menempatkan mereka di Surga-Nya.
(63 dongeng terbaik dunia dari 5 benua, hal 238-243)

Yang menarik adalah bagaimana walet yang tadinya hanya mau beristirahat sebentar saja akhirnya malah memutuskan membantu sang pangeran. Terlebih ketika kedua bola mata pangeran sudah dicungkil sehingga tidak dapat melihat lagi, sang walet setia menemani dan membantu pangeran untuk menolong rakyatnya yang kesusahan. Sifat setia dan gemar menolong walet ini harus kita cermati terlebih walet adalah hanya seekor burung kecil namun banyak sekali manfaatnya. Walet sendiri tidak memiliki alat pertahanan tubuh yang canggih, mereka selalu waspada dan selalu terbang berkelompok. Untuk mengatasi minimnya alat pertahanan tubuh, walet memiliki sifat selalu berhati-hati dan waspada terhadap segala jenis situasi dan kondisi. Keistimewaan lain dari walet adalah dari sarangnya yang memiliki banyak manfaat mulai dari menyembuhkan berbagai penyakit hingga memperlambat penuaan.

Dari sini saya mengerti kenapa seseorang bisa memiliki julukan “Walet”.

Saya mengenal seorang “walet” yang memang memiliki sifat-sifat seperti burung walet ini. Dimana dirinya memiliki banyak manfaat untuk orang lain di sekitarnya dan kebaikannya menyebar. Meskipun suara walet bising dan tidak merdu tetapi nilai ekonomisnya tinggi.

Seperti dirinya yang begitu berharga, dicari dan ditunggu banyak orang. Kelasnya tinggi tanpa perlu berteriak-teriak menunjukkan statusnya.

Selamat Ulang Tahun Walet Tersayang, Ibu Soelistyo Probowatie…
Tetaplah terbang tinggi, membuat sarang dan memberikan manfaat serta menebar kebaikan bagi banyak orang.
We Love You,
Anak Burung13267729_10208967511646351_787280926644087273_n

Garuda di hidupku

15.05.2016

Waktu saya ikut training di hanoi tahun lalu, di minggu pertama trainernya minta kita bercerita tentang sosok pimpinan yang kita kagumi dan mengapa beliau bisa sampai kita kagumi.

Saya berpikir keras….diantara sekian banyak pimpinan yang saya kagumi dan idolakan akhirnya saya pilih seseorang yang saya anggap paling memiliki andil didalam pembentukan karakter saya dalam dunia kerja karena beliaulah pimpinan pertama saya.

Tentang mengapa saya mengganggap beliau cocok jadi panutan dan idola adalah tentang sikap beliau yang selalu memberikan contoh didalam setiap perintah. Tanpa perlu berteriak dan tarik urat, beliau memerintahkan disiplin waktu dengan hadir lebih dulu di lapangan apel. Beliau juga yang dengan sabarnya memanggil peserta apel bergiliran ketengah lapangan untuk berbicara sepatah dua patah kata didalam bahasa inggris dan sabar untuk tidak beranjak dari hadapan kita jika kita belum mengeluarkan suara. Begitulah beliau mengajarkan keberanian, how to push your limit!

Dan beberapa hari lalu sewaktu saya buka lemari, saya menemukan tape recorder yang beliau sediakan untuk kami para taruna yang sedang praktek kerja di kantor tempat beliau memimpin dan saat itu sedang menerima materi tentang document fraud. Sewaktu akan dikembalikan, beliau hanya berpesan semoga bermanfaat dan pesannya jelas sekali, jangan lihat siapa yang mengajari tapi lihat apa yang diajarkan. Selama itu baik, terimalah!!!

Sampai hari ini jelas kami selalu merindukanmu..
Hanya doa yang bisa dipanjatkan semoga dengan segala amal kebaikan yang engkau lakukan semasa hidup, dapat menjadikan mulus jalanmu menuju surga-Nya

Insha Allah, aamiin aamiin aamiin…

Dari,
Saya yang bangga pernah mengenal bapak 😊

-memperingati hari lahir Mr. Doddy M Wibowo-

View on Path

Bukan Teman Biasa

Trauma setelah melahirkan pasca SC anak pertama membuat saya berpikir ulang ketika memutuskan untuk memulai program untuk hamil lagi. Namun setelah akhirnya saya hamil, pelan-pelan saya mengikis trauma tersebut sampai akhirnya lahirlah anak kedua.

Sayangnya beberapa saat setelah melahirkan, cobaan berikutnya datang yaitu dengan mendadak berhentinya ART yang biasa membantu dirumah. Dengan kondisi ada 1 balita dan 1 bayi serta kurangnya dukungan inner circle cukup membuat saya kelelahan baik fisik maupun pikiran. Ditambah di minggu awal kelahiran bayi yang harus dirawat di ruang perinatal karena bilirubin yang mencapai angka 21 mengharuskan saya rutin pumping setiap 2 jam tidak peduli pagi, siang ataupun tengah malam.

Stres?
… Pasti …

Nangis?
… Jelas …

Marah?
… Tentu …

Apa yang bisa saya perbuat saat itu selain menerima keadaan? Nothing…

Tapi tahukah kawan… disaat saya merasa sendirian, merasa paling susah, merasa paling merana karena jauh dari keluarga, nun jauh disana ada banyak yang menyemangati saya untuk tetap bertahan dan saling menguatkan. Walaupun sebelumnya kita hanyalah orang lain yang tidak saling mengenal namun dipertemukan didalam satu komunitas yang sama dan merasa cocok satu sama lain walau sering juga berseberangan pendapat.

Kita semua memang tersebar di berbagai kota dan bahkan saya belum bertemu dengan sebagian besar dari mereka. Tapi hangatnya hati dan tulusnya persaudaraan yang ditawarkan membuat saya tidak pernah merasa sendiri. Sampai akhirnya hari ini tidak terasa sudah 3 tahun lebih kita menghabiskan waktu bersama. Ya! 3 tahun bersama yang setiap harinya diisi dengan obrolan yang tidak pernah kehabisan topik untuk dibahas. Mulai dari urusan anak, dapur, fashion terbaru, informasi diskon apa dimana dan segala tetek bengek lainnya.

Tidak salah jika tahun ini saya sempatkan hadir di event 3rd birthday bash anak-anak kami di Bogor bulan lalu. We were having so much fun! Saya ga menyesal sudah jauh-jauh datang karena akhirnya saya bisa bertemu lagi dengan teman-teman dan keluarga hebat yang selama ini hanya bisa komunikasi lewat aplikasi chatting.

Tanpa mereka, mungkin saya tidak bisa melewati saat-saat berat waktu itu.
Dan tanpa mereka, hidup saya saat ini mungkin tidak akan sama.

So that’s why I called them family ☺

Thank you TUM March+2013 Birth Club, you rock!!!!

Dan untuk mom to be diluar sana, even we know that every mom and family has their own battle, but support group is a must!

Thank you so much mama melati yang udah jadi superb  host, pelukcium!!!

Artikel lengkap tentang serunya acara ulang tahun March+2013 bisa dilihat disini, blognya mama melati as a host 🙂

 

Never Ending Drama

12936695_1309386005768552_6994367738144075641_n

photo credit : Spirit Science

Dulu waktu saya masih punya anak 1, saya ga kepikiran untuk punya anak kedua walaupun saya punya target pas umur 30 pengen punya anak 3. Dulu saya mikirin kalau saya punya anak lebih dari 1, gimana nanti perasaan anak pertama dan bisakah saya bersikap sama sayang atau perhatiannya. Lalu satu persatu temen saya mulai hamil anak keduanya dan saya yang emang dasarnya gampang kebawa arus akhirnya memutuskan “ok, mungkin ini saatnya” dan muncullah anak kedua.. hehe

Lalu karena saya harus bekerja,  hire orang untuk jaga anak adalah keharusan buat saya (walaupun nyari orang untuk jaga anak ini perjuangannya jatuh bangun juga). Saya lebih nyaman anak didalam rumah daripada dititip ke tempat penitipan walaupun jatuhnya juga jadi lebih mahal. Apakah si mbak sanggup ngurus 2 anak dan rumah sekaligus? Tentu tidak…maka saya harus hire 1 orang lagi yang khusus untuk urusan cuci dan setrika baju. Disinilah awal mulanya drama demi drama dimulai. Ibarat kata perusahaan, saya selaku manager dan mbak-mbak itu adalah pegawainya. Segimanapun saya ngerasa kalau saya udah adil dalam memperlakukan mereka, tapi yang namanya manusia kan ya, siapa sih yang bisa bener-bener adil? Dan kembali lagi ke sifat manusia, siapa sih yang pernah puas?

Dan ternyata hal kaya gini ga cuma ada di level mbak-mbak ART aja.. tapi juga di level kantoran. Back to sifat manusia yang ga mungkin bisa adil dan ga pernah puas, pasti gesekan sama teman kantor bakal ada terus dan selagi kita ga bisa ngontrol tingkat toleransi terhadap sesama pasti bakal ada aja masalahnya.

Dari situ muncullah yang namanya politik adu domba, yang ini ngelaporin itu, yang itu ngelaporin ini, yang sini ngomong ini kesana yang sana ngomong itu kesini..bahkan sampai ngejelekin managernya sendiri…mbulet…lingkaran setan…karena satu sama lain ga mau dipertemukan dalam satu forum untuk dikroscek informasinya, ga mau jujur terbuka dan lebih memilih untuk saling mendiamkan dan lalu melempar isu yang ga jelas kebenarannya lalu berujung saling tuding satu sama lain.

Hey guys…seharusnya sama-sama sadar, cari makan di tempat yang sama..mbok ya’ooo saling menjaga bukannya malah sama-sama buang kotoran di tempat makan sendiri!!!!

.

.

.

.

Jadi,

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kapan pengen punya anak ketiga?

.

.

.

*eh

Kertas ini sengaja saya tempel di board meja kerja supaya kalau pas lagi males atau ngerasa bosen kerja, saya bisa inget saya kerja untuk apa dan untuk siapa…

Semoga di tahun yang baru ini rezekinya makin lancar dan berkah, selalu diberi kesehatan untuk semua dan segalanya tambah menyenangkan untuk urusan apapun. Kenapa menyenangkan?

Yaah seperti motto saya, kehidupan yang menyenangkan, saya bahagia maka keluarga pun bahagia.

Dan resolusi saya yang pertama emang pengen membebaskan mamah dari bpjs. Kita tau bpjs ngebantu banget2 karena sejak mamah pasang ring di jantungnya, mamah ketergantungan obat yang mana emang lumayan merogoh kocek kalau beli sendiri. Tapiiiii mengingat antriannya yang kadang ga manusiawi dan rute birokrasi yang kadang sangat melelahkan untuk dijalani mamah sendirian (karena kami anak2nya diluar bandung semua), maka bolehlah tolong dibantu diaminkan permohonan saya ini….

Dan mungkin selanjutnya adalah.
.
.
.
.
.
.
.
.
Belanja ga perlu liat price tag 😀

View on Path

for the first time

Gara-gara abis nyari foto yang sama mama kemarin buat diupload dalam upaya dapet voucher hotel gratisan, saya kok jadi keingetan kenangan-kenangan jaman dulu waktu masih kecil ya. Jadinya saya pengen nulis deh demi menggali memori itu. Karena tulisan ini bakal memuat kenangan saya dan mama dari saya kecil dulu, jadi sepertinya akan panjang ceritanya.

Ulang Tahun

Mungkin bagi sebagian orang ulang tahun itu bukan sesuatu yang harus dirayakan karena sebetulnya umur kita juga udah berkurang. Tapi coba deh ngomong gitu sama anak kecil..hehe.. mama dari dulu selalu ngebuat hari ulang tahun jadi istimewa walaupun itu hanya sekedar potong kue aja dan bukan pesta ngundang temen-temen. Karena itu juga mungkin saya jadi menerapkan yang sama ke keluarga saya. Karena saya ingin ada yang bisa dikenang di setiap pergantian tahun mereka seperti saya hari ini mengenang ulang tahun saya jaman dulu. Waktu TK, acaranya disekolah, saya sengaja ga masuk dan dateng pas temen-temen udah selesai belajar dan ibu guru udah selesai ngeset kelas untuk acara saya..hehe.. Waktu masih SMP, mama ngundang temen-temen pramuka saya pas saya ulang tahun ke-14. Waktu SMA, pernah waktu itu mama bikin surprise dateng ke sekolah bawain nasi kuning untuk temen-temen saya. Seneng banget rasanya karena temen-temen jadi tau saya ulang tahun dan pada doain saya. Pernah juga beliin beng-beng beberapa kotak untuk dibagiin ke temen sekelas. Ulang tahun terakhir yang dirayain itu waktu saya umur 17 tahun dan udah mau lulus SMA.

Waktu saya udah kerja, saya pernah bikin surprise birthday party untuk mama. Saya di Jakarta saat itu arrange semua, ngundang sodara-sodara untuk dateng kerumah pas mama ulang tahun dan saya baru nyampe rumah setelah semuanya dateng. Surprissseee karena mama taunya saya ga pulang ke bandung. Dan tante saya sirik dong pengen dibuatin juga kejutan ulang tahun sama anaknya. Ah…saya emang suka kejutan yang menyenangkan sih dan ini sepertinya genetis 🙂

2015-12-22

kumpulan foto yang berhasil saya bawa ke banjarmasin, ulang tahun ke-1,2,4,5,8,14.. btw, di ulang tahun pertama masih ada papa ituuuu 🙂

Belajar mandiri dan tanggung jawab

Dari saya kecil mama selalu pergi kerja setiap hari senin sampai sabtu. Dulu mama kerja dibagian kemahasiswaan jadi ga bisa dateng terlambat atau pulang cepat. Pernah waktu saya masih SD dan mau berangkat sekolah, saya pengen ikut mama aja naik mobil daripada ikut jemputan. Karena pergi yang terburu-buru, saya baru sadar tas sekolah saya ketinggalan setelah hampir sampai di sekolah. Tentu aja mama ga mau ikutan pusing mikirin ini, saya dibiarin nyelesain masalah sendiri dan ngomong ke ibu guru sendiri. Saking sibuknya mama, seinget saya hampir ga pernah ngajarin saya belajar. Jadi saya belajar sama kakak-kakak saya atau ga belajar sama sekali walaupun setelahnya kalau dapet nilai jelek ya mama pasti marah. Saya juga pernah digeret ke kamar mandi dan disiram air dingin malam-malam pakai baju lengkap karena mama kesel sama saya yang udah bohong waktu saya kehilangan buku pelajaran PSPB. Dan pas besoknya saya demam, keliatan banget mama khawatir dan mama minta maaf. Saya sih ga masalah karena emang saya salah walaupun emang nangis kejer juga sih saat itu.

Pernah satu sore saya nongkrong diatas tembok pagar rumah saya karena saya takut di dalam rumah sendirian padahal udah magrib dan kakak-kakak saya belum pada pulang, gitu juga mama. Tapi ini ngga ngebuat mama kasian sama saya, padahal waktu ngeliat mobil mama dateng dari ujung gang, saya udah langsung loncat kegirangan bukain pagar. Oh ya, meskipun saya didalem rumahpun, saya bisa tau kalau mobil mamah udah sampai di ujung gang karena suara gasnya mobil carry yang khas. Dulu mama selalu pakai mobil tipe carry gini karena mobilnya bisa dipakai untuk angkut-angkut barang catering.

Sepanjang SMP, saya sering banget bikin mama tambah repot karena saya ikut ekskul PRAMUKA dan seneng camping. Karena setiap kali camping seringnya mama ngebolehin asalkan rame-rame dan jelas tapi mama tetep ngintilin malamnya..hahahaha…jadi ya gitu deh, ke lembang, Batu Kuda, mama tetep dateng malemnya untuk ngecek kecuali pas saya camping yang beneran naik gunung dan ga bisa disusul, kalau yang ini izinnya mati-matian. Overall, saya berterima kasih juga karena udah didukung kegiatan PRAMUKA ini karena saya sadar secara ga langsung ini ngebentuk pribadi saya.

2015-12-221.jpg.jpg

waktu masih kinyis-kinyis

Karena kesibukan mama juga, waktu mau masuk SMA saya harus daftar sendiri dan ga dianter-anter untuk urusan apapun itu selagi masih ada angkot.

Urusan sama kakak-kakak saya, waktu masih kecil kita bertiga sering banget ribut. Seringnya sih saya dengan kakak pertama atau saya dengan kakak kedua atau kakak kedua dengan kakak pertama atau kakak kedua dengan saya. Jarang sih kita bertiga ribut bareng tapi bukan berarti salah satu dari kita jadi penengah juga kalau salah duanya lagi berantem. Terus mama gimana? Ga banyak omong…paling nyorongin pisau :p

iya mama saya mah gitu banget, ya kebayanglah ya… sendirian ngurus 3 anak, kerja dari pagi pulang sore badan cape nyampe rumah ga ada tempat curhat, anak-anak malah ribut berantem ya pasti emosi jiwa juga *pukpukmama

Perjuangan

Mama saya ini pejuang sejati. Ga usahlah ya diceritain lagi karena di beberapa post udah sering saya mention tentang ini. Yang jelas mama baru mulai kerja setelah papa meninggal. Untuk itulah saya mempertahankan prinsip sebisa mungkin wanita itu harus kerja mau di kantor kek atau dirumah, minimal ada keahlian yang bisa dipakai karena kita ga pernah tau akan ada kejadian apa di depan nanti. Kalau mama saat itu ditinggal papa, teteh saya umur 7 tahun, kakak saya 4 tahun dan saya 14 bulan. I can’t imagine if I were in her position 😦

Sepanjang SMA ga ada kejadian berarti kecuali saya yang berusaha mati-matian buat lulus karena saya masuk kelas IPA sedangkan daya jangkau saya rendah. Oke…saya lulus dengan nilai UAN matematika 4 kalau ga salah. Lebih sedikit dari nilai minimal untuk lulus. Waktu mulai kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Jepang FPBS UPI, barulah mama bisa liat kalau ternyata bakat saya emang di bahasa dan bukan hitung-hitungan. Saya bisa tahan ngapalin dan nulis ulang kanji semaleman tapi diam ga berkutik kalau disuruh liat rumus hitungan. Disini juga saya mulai dapet beasiswa walaupun ga sampai selesai. Sepanjang 3 semester di UPI, ga pernah IP saya dibawah 3,5 dan sekali nyaris 4. Bukan mau sombong, tapi dijadiin pelajaran aja bahwa jangan pernah memaksakan sesuatu yang bukan keinginan dan kemampuan seseorang 🙂

Di masa-masa ini saya tau mama sangat berharap kalau ada salah satu anaknya yang jadi PNS supaya bisa nerusin jejak papa. Mungkin karena liat uang pensiunannya yang bisa jadi jaminan kali ya. Entahlah kalau nanti kebijakannya diganti sama presiden. Tapi saat itu jujur aja pikiran saya juga ga jauh-jauh dari ya insya Allah kalau udah lulus bisa jadi PNS dengan jadi guru mungkin? Walaupun saya tau saya ga bakat ngajarin orang karena saya bukan orang dengan tipe sabar. Mungkin karena ini Allah jawab doa saya dengan meluluskan saya di Akademi Imigrasi. Walaupun stress di bulan-bulan awal tinggi banget sampai nyaris menyerah, saya selalu balik lagi ke niat awal pengen jadi PNS seperti harapan mama. Jadi waktu awal masuk ditanya sama Pembina dan senior apa harapan kamu dan kenapa masuk AIM? Rata-rata teman saya jawab mau jadi PEJIM alias pejabat imigrasi. Saya boro-boro tau PEJIM, tau AIM kaya gimana aja baru pas hari pertama saya masuk setelah lulus. Jadi saya cuma jawab mau jadi PNS. Lalu didamprat, NGAPAIN CAPE-CAPE MASUK AIM KALAU CUMA SEKEDAR MAU JADI PE EN EESSSSSSS!!!!!! Yakaliiii..meneketehe, yang saya tau saya cuma pengen bahagiain mama. Tapi jawabnya dalam hati aja sih.

Perjuangan belum usai bung… waktu masih jaman catar dan mau penutupan di Pelabuhan Ratu, saya terpilih jadi salah 1 dari 10 penembak yang bakal pentas di acara penutupan. Cuma nembak balon doang sih untuk ngebuka banner ucapan, pake senapan laras panjang AK 47. Demi eksistensi dan kebanggaan diri dong ya…saya sembunyi-sembunyi ngehubungin mama lewat salah satu pelatih ngabarin tentang ini. And gues what!!!!! Mama saya dateng ke pelabuhan ratu buat liat saya nembak balon…hahahahaha… dan saya baru tau setelahnya kalau saat itu mama saya keabisan uang karena mau beliin saya logistic disana dan akhirnya beliau terpaksa ke kota untuk jual gelang emas yang saat itu beliau pakai. Hiks…sedih banget kalau inget ini. Betapa mama ngebelain banget dan ngelakuin apapun buat saya. Gitu juga waktu saya lulus ikut Paradasar, terjun payung yang latihannya 1 bulan di Bandung, Lanud Sulaeman. Seminggu terakhir waktunya terjun, 7 hari berturut-turut mama dateng nungguin saya di bawah landasan setelah sebelumnya ngeliatin saya loncat dari atas pesawat.

paradasar.jpg

dua foto diatas waktu lagi latihan nembak, saya lebih suka AK 47 daripada revolver btw… foto yang dibawah itu waktu terjun payung

Oh ya, mama ga bisa liat orang kelaperan.. waktu kita masih di brimob mama pernah sembunyi-sembunyi datengin saya dan saya yang ga tau apa-apa tiba-tiba ditarik dari barisan sama pelatihnya dan dimasukin ke mobil. Didalem mobil ternyata ada mama dan om saya. Kita udah ga ketemu sebulan lebih kayanya saat itu. Dan pertama kali ngeliat saya, bukannya meluk atau nanya kabar tapi langsung jejelin cheese roll Kartika Sari ke mulut saya. Nyam…nyam…nyam…nyam…

3 tahun di asrama, cita-cita saya cuma 1. Pengen bikin mama bahagia dan bangga sama saya. Impian saya cuma pengen lulus sebagai salah satu lulusan terbaik supaya nama mama saya bisa disebut dilapangan upacara waktu wisuda dan mama bisa nerima bouquet bunga dari menteri saat itu. Terus gimana hasilnya? Alhamdulillah tercapai, walaupun ga diucapkan saya tau beliau bangga dan bahagia walau papanasan di lapangan ya mah :p

Desktop.jpg

saya & mama

Ketulahan

Apa ya bahasa Indonesia ketulahan ini….semacam kemakan omongan mungkin ya. Duluuu banget waktu kakak saya belum punya anak, mama pernah ngomongin bude saya yang dari magelang tiap kali ke bandung pasti beli banyak oleh-oleh untuk cucunya di magelang. Lalu katanya mama mah ga mau dijajah sama cucu. Lucunya….lihatlah sekarang. Apa yang dibeli kalau mama ke pasar? Segala baju, sepatu dan mainan untuk cucunya..hehehehehe…. di lemari baju edel aja semua roknya bikinan neneknya 😀

Berempati

Setelah saya punya anak, saya jadi lebih ngerti perasaan mama saya. Dan ya kaya sekarang ini jadinya sering nginget-nginget jaman kecil dan kenapa mama gitu, mama gini, sekarang saya tau jawabannya karena saya ngerasain sendiri.

Sampai sekarang, apapun yang saya rasain, apapun yang saya laluin, apapun keputusan yang saya ambil saya selalu cerita sama mama. Minta doain sama mama. Walaupun saya tau setelah saya cerita, ga jarang mama kepikiran masalah itu, saya cuma pengen didoain mama. Tapi sejak mama bermasalah sama jantungnya, saya jadi pilah pilih cerita karena takut ngeganggu kondisi kesehatan mama walaupun ga jarang mama udah ngerasain ada sesuatu sebelum saya sempet cerita. Insting seorang ibu?

Takut kehilangan

Takut kehilangan itu wajar karena kita manusia biasa. Ada masa mama pernah kumat sakit jantungnya waktu lagi nengokin kesini. Malam itu hampir tengah malam, saya didalam ambulance yang sirinenya meraung-raung dan mama terbaring di belakang dijagain suster ngebut kerumah sakit di kota sebelah. Alhamdulillah semuanya udah lewat walaupun gara-gara itu sampai sekarang saya masih trauma denger suara sirine ambulance.

Harapan

Harapan saya ga muluk-muluk, saya cuma pengen mama selalu sehat, selalu bahagia, selalu merasa tercukupi, selalu senang, selalu bisa ngelewatin hari-hari sama orang tersayang, selalu ada rezekinya untuk bisa jalan-jalan kemanapun mama mau karena dulu mama habisin waktu buat ngurus kita. Saat ini mama tinggalnya nomaden, saya ga tega sebetulnya kalau mama di Bandung karena ga ada temennya. Adakah yang bisa mindahin saya tugas ke Bandung? *eh curcol*

Akhirnya…….setelah cerita panjang-panjang….sebetulnya saya cuma mau nulis ini aja daritadi :p

Mah, aku tau ini ga penting diucapin, tapi aku ga pernah ngucapin kayanya sepanjang hidup dan seumur hidup jarang banget aku bilang kalau aku sayang mama! Ga kenapa-kenapa sih…..aku malu aja….hehehe…karena dari aku kecil mama juga ga pernah bilang mama sayang aku. Tapi aku tau itu bukan masalah karena sayang dan cinta bukan untuk diucapkan tapi untuk dirasakan 🙂

We love You, nenek…

1450773683303

nenek di tengah anak-mantu-cucu-besan yang lagi ngumpul lengkap dateng dari Jepang, Banjarmasin, Jambi, Jakarta